Posts Tagged ‘Mountaineering’

Mount Cikurai, Garut, West Java

Saturday, August 1st, 2009

Sabtu, 18 Juli 2009, saya bersama lima orang anak posko Stapala ditambah dengan salah seorang senior - Mas Erwin Cahyono 466, mendaki Gunung Cikurai di Garut Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2818 mdpl ini merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat (setelah Ciremai, Pangrango dan Gedhe).

Berangkat dari Jakarta via terminal Lebak Bulus pada pukul 08.00, rombongan anak posko berjumpa dengan Mas Erwin yg sudah menunggu di terminal Bus Guntur, Garut pada pukul 14.00. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot ke pertigaan Cigarungsang. Dari titik ini tim memulai perjalanan mendaki. Dibutuhkan waktu 3,5 jam bagi tim untuk mencapai Pos Pemancar melalui perkebunan teh yang eksotis. Kami istirahat sejenak di kompleks pemancar televisi itu untuk sekedar melepas lelah dengan ditemani 2 gelas kopi yg terus digilir, berpindah dari satu tangan ke tangan yg lain.

Pukul 21.00 kami melanjutkan langkah mendaki tanjakan terjal, menembus hutan lebat berlumut Gunung Cikurai. Asyik juga naek gunung malam hari: gak panas dan gak cepat haus. Pada pukul 24.00 kami sampai di pos 3 (camp area 2). Kami memutuskan tuk mendirikan tenda di sini.

Esok dini harinya, pukul 03.00, Mas Erwin dan Ranjoss melakukan summit attack untuk mengejar sunrise. Sementara 5 orang lainya masih terlelap dalam mimpi. Baru kemudian, setelah Mas Erwin dan Ranjoss turun kembali ke pos 3 pada pukul 08.30, kami ber5 gantian menyerbu puncak. Pukul 10.00 kami menggapai Puncak Cikurai. Cuaca hari itu sangat mendukung. Pandangan mata tak terbatas 360 derajat, awan putih yg jauh berada di bawah kami, gunung2 berjajar berselimut awan.

Setelah berfoto ria dan menyanyikan mars Stapala dengan suara sumbang, kami turun kembali ke pos 3. Pada pukul 17.00 kami sudah menginjakkan kaki di pertigaan Cigarungsang lagi.

Perjalanan yang luar biasa, salut buat Mas Erwin 466 yang masih kuat memanggul carier penuh logistik. Bukti dan sekaligus sindiran bagi senior-senior yang lain, bahwa usia bukan halangan tuk terus mendaki.

Buat senior-senior yang kangen akan suasana puncak gunung, yang kangen akan bau tanah basah, kabut putih, dinginnya udara gunung, silakan kontak saja anak–anak posko. Kami siap menemani perjalanan abang-abang semua.

Tim Cikurai 2009:
Erwin Cahyono466
Dosko Daris Jati802
Sentot Wisnu Sudiro843
Jupret Zulfikar Ahmad858
Wapress Muhammad Hatta860
Ranjoss Agil Wibowo862
Bogank Muhammad Agus878

Ini Dia, Salak Via Cimelati

Saturday, August 1st, 2009

Pada tanggal 11 Juli 2009 kemaren, saya dan 8 orang temen mendaki gunung salak via Cimelati dan turun lewat jalur Cidahu/Cangkuang.
Berikut catatan ringkasnya:

Ciputat-Pertigaan Cimelati: Bus Pusaka @15.000, dari Ciputat jam 07.00, sampai di cimelati jam 10.00.
Pertigaan Cimelati-Pos Satpam (pos Murbay): ojek @10.000 (melalui tawar menawar yg alot, awalnya tukang ojek nawarin tarif 20.000). Tukang ojek memang sangat mendominasi di pertigaan itu.

Sampai di Pos Satpam/Pos Murbai melaporkan diri ke petugas satpam, isi buku tamu, tak dipungut biaya. Dari pos satpam ke batas hutan kira2 300meter, jalan aspal mulus.

Sumber air ada di Pipa Bocor, kira2 2 jam perjalanan dari pos murbai. Di tengah2 jalur, sesaat setelah memasuki pintu hutan kita akan menemui pipa air yg berlubang, tapi pipa ini bukanlah pipa yg dimaksud dg “pipa bocor”. Pipa Bocor berada pada shelter ke 3 di dalam hutan lebat dan merupakan sumber air terakhir sampai puncak.

Setelah memasuki pintu masuk hutan ada persimpangan, ambil yang ke kiri.
Perjalan ke puncak kami tempuh selama 6 jam dengan kondisi cuaca cerah dan jalur yang kering.

  • Info jalur Cidahu/Cangkuang:

Pendaki akan dikenai tarif 3x:
tarif camp area 4000 perorang permalam (kalo gak salah).
tarif pendakian ke puncak @2500.
tarif tenda 20.000 pertenda.

  • Salak Cimelati squad

dari stapala:

  1. Dosko Daris Jati
  2. Cekong Brilian Ananta Tirtaklamasi
  3. Coti Guntur Alyafie
  4. Gokong Eko Santoso

Dari IPB+:

  1. Abi (fasilkom)
  2. Charles (kedokteran hewan)
  3. Priyo (fasilkom)
  4. Reki
  5. Wahyu (ponakan Abi)

Ultra-light Hiking di Merapi

Wednesday, August 20th, 2008

Kamis 14 agustus 2008, 02.00 - Posko Stapala
Pagi itu saya tidur jam dua dini hari. Sebagian logistik pendakian Semeru esok hari sudah saya masukkan ke ransel. Besok tinggal mindahin aja ke caril. Hand phone saya charge lagi untuk antisipasi jika selama pendakian tidak menemukan colokan listrik. Seperti biasa, HP saya silent.
Pukul 05.15 saya terbangun. Tidur yang lumayan, pikir saya. Masih setengah sadar saya lepas HP dari colokan charger. Busyeet, ada 19 misscall, 4 new messages. Hati mulai gundah gulana, ada apa gerangan. Beberapa nomer yang misscall tak bernama, satu dari rumah, satu dari Dhik Edhi, sepupu jauhku. Salah satu message saya baca:”Innalilahi….”, dalam hati saya menebak, waduh Simbah Putri ini pasti. Tapi saya tahu kemudian, Bulik saya meninggal jam satu dini hari tadi. Karena HP saya silent, panggilan-panggilan telepon tak bisa saya dengar.
Rasa bingung , panik, sedih dan terkejut campur jadi satu. Saya putuskan untuk mandi dan sholat subuh dulu di musholla asrama pojok kampus. Selama di jalan menuju musholla saya berfikir terus apa yang harus saya lakukan. Yang pertama terpikir adalah pendakian Semeru saya batalkan.

Sabtu, 16 Agustus 2008, 17.15 - Ponjong, Gunungkidul
Beranjak dari rumah saya pacu motor protolku menuju base camp pendakian Merapi di Selo kabupaten Boyolali. Kuputuskan untuk mendaki ke Merapi sendirian sebagai pengobat rasa kecewa setelah gagal ke Semeru. Mendaki sendirian bukan pilihan yg mengasyikan. Apalagi jalan sendirian di malam hari, hiiii. Tapi setidaknya di atas gunung saya tidak akan sendirian. Sesuai tradisi, setiap tanggal 17 Agustus, pasti banyak yang akan mendaki. Tim milis Jejak Petualangan juga mendaki gunung yang sama.
Dalam perkiraan, 3-4 jam waktu yang saya butuhkan untuk sampai di Selo. Saat adzan magrib menggema saya sampai di Jogja. Sempat berhenti di Muntilan dan Blabak buat beli senter dan logistik.
Memasuki jalan raya Magelang - Boyolali, jalanan mulai menanjak. Kabut tebal menyambut saat saya tiba di kawasan wisata Ketep Pass. Jarak pandang hanya 10 meter. Terpaksa saya buka kaca helm untuk memperjelas pandangan. Dingin udara malam menembus sampai ke tulang.
Pukul 21.00 saya tiba di Selo. Nampak ratusan pendaki lain telah tiba lebih dulu. Sebagian dari mereka langsung naik. Setelah membayar retribusi Rp. 4.000, saya istirahat di rumah pak RT, tempat saya menitipkan motor. Sebelum tidur saya sempatkan dulu untuk packing ulang. Barang-barang yang saya bawa antara lain:
Ransel DJBC butut nan buluk yg biasa saya pake ke kantor,
SB (sarung bolong),
syal,
kaos tangan,
ponco,
senter besar dengan 4 baterai,
kaos dan kancut cadangan 1,
sendal ‘Boogie” yg mulai keropos.

Yang saya pakai di badan:
jaket, kaos lengan panjang rangkap 2, kaos lengan pendek, celana panjang, celana pendek, semuanya ngembat punya orang.
Assesories tidak ada yang saya bawa: topi, balaklava, kaos kaki, masker (terbukti barang-barang ini bukan sekedar assesoris)
Logistik:
Roti 3 bungkus, Ritz 1, rendang 1 bungkus kecil, kacang bawang, lemper 1, Mijone, Pocari, Fatigon ion-drink, obat-obatan seperlunya.
Benar-benar pendakian yg minim. Tapi safety lho, soalnya saya dah bawa ponco (alat keselamatan nomor wahid).

Pendakian
Pukul 00.00 saya bangun, cuci muka bentar, langsung genjot langkah menuju puncak. Wahh, banyak banget yang mendaki malam ini, ga keputus-putus. Setiap 20 meter pasti ada satu tim pendaki yang saya temui dan lewati. Setengah jam mendaki, puluhan tim sudah saya lewati. Bawaan yang ringan memudahkan pergerakan saya. Tidak seperti yang selama ini saya bawa kalo naik gunung, bawa tas segede bantal dan sepanjang guling.
Bulan Maret yang lalu saya  pernah mendaki Merapi lewat jalur yang sama. Hanya saja, waktu itu saya mendaki bertiga bersama Uhe dan Muladi, temen Stapala, dan waktunya pun siang hari. Saat ini saya mendaki sendirian, malam hari pula, alamaaak.
Jalur yang rame begini ternyata bikin bete juga, harus saling berbagi jalan kalo mau mendahului. Belum lagi harus menyapa tiap pendaki yang saya lewati. Berisiknya juga minta ampun, kadang-kadang mereka berteriak sahut-menyahut. Eghhhhh.
Cling***, Jalur Selo kan ada jalur alternatifnya. Jalur Kartini namanya. Tapi masalahnya, saya belum pernah lewat jalur ini. Persimpangannya di mana saya juga tidak tahu. Tapi cukup menantang juga nih, patut dicoba.

Sendirian di Jalur ‘X’
Selepas perbatasan ladang dan hutan saya lihat banyak persimpangan jalur. Jalur utama yang lebih besar, lurus mengikuti punggungan, sementara jalur-jalur yang ke kiri tidak begitu besar. Penasaran ingin lewat jalur alternatif, saya putuskan untuk berbelok ke kiri berpisah dengan tim pendaki yang lain. Kebetulan dalam jarak kira-kira 200 meter di depan, saya melihat ada sekelebat cahaya senter. Saya berjalan cepat mengejar cahaya itu. Tiga puluh menit saya berjalan, tidak ketemu juga orang yang saya kejar tadi. Banyak persimpangan jalur yg membingungkan, tapi saya ikuti insting saja, yang penting jalurnya jelas. Lama-lama kok jalurnya makin sempit ya, sampai akhirnya jalurnya bener-bener hilang. Waduhhh gazwat nih. Langsung saja saya menerobos semak dan rerumputan mengambil arah kanan mencoba kembali ke jalur normal dengan agak panik dan takut. Ngeri euy, jalan sendirian. Lima belas menit kemudian saya temukan jalur yang agak lebar. Tapi arahnya mendaki kekiri bukan ke kanan. Sempet bingung mo ke kiri ato turun ke kanan, akhirnya saya putuskan untuk ke kiri saja, berdasarkan insting lagi tentunya. Untung saja waktu itu bulan purnama, jadi suasananya ga terlalu gelap.
Alhamdulillah, akhirnya ketemu dua orang pendaki. Saat saya tanya mana jalur yang benar, mereka menjawab tidak tahu, lha wong mereka juga tersesat. Tiga puluh menit berjalan akhirnya kami bertemu dengan jalur normal, tepatnya setelah pos II (Patok II, Sanggabuana Atas, atau apalah namanya, saya kurang tahu) sebelum Watu Gajah (Watu Gajah atau Gajah Mungkur ya?). Di depan, pintu gerbang Pasar Bubrah berupa deretan memorium sudah kelihatan dengan latar belakang puncak Merapi yang kokoh. Memorium-memorium ini dibangun untuk mengenang para pendaki yang meninggal di gunung Merapi. Jauh di sebelah kiri nampak kerlap-kelip lampu kota Boyolali dan Solo. Indah nian. Kota Salatiga juga terlihat anggun berada di sebelah bayangan samar Merbabu.

Menggigil di Pasar Bubrah
Sampai di Pasar Bubrah pukul 02.00 dini hari. Angin bertiup kencang sekali. Wah, rame sekali di sini ya, banyak banget yang camp di Pasar Bubrah, layaknya pasar beneran saja. Pasar bubrah adalah pos terakhir sebelum puncak, biasanya para pendaki mendirikan camp di daerah ini. Bentuknya berupa cekungan luas yang diapit oleh sebuah bukit kecil (yang tadi saya sebut sebagai pintu gerbang Pasar Bubrah) dan punggungan Puncak Merapi. Area ini berupa padang terbuka yang dipenuhi batu-batu besar hasil erupsi Merapi. Tumbuhan yang ada paling hanya pohon cantigi. Kita dapat memilih area berpasir yang tidak berbatu sebagai tempat untuk mendirikan tenda. Saya putuskan untuk istirahat di sini sambil menunggu pagi. Saya menggelar ponco sebagai alas tidur di samping sebuah batu besar. Cukup terlindung dari angin, tapi dinginnya udara tak bisa dihalangi dengan pakaian yang saya kenakan. Benar-benar dingin. Akhirnya selama hampir dua jam saya menggigil kedinginan tidak bisa tidur.
Berbaring di tanah beralaskan ponco berselimut Sleeping Bag Jawa (Sarung), menatap indahnya bulan purnama yang mulai cuwil (growol, ga utuh lagi) akibat gerhana. Ya, malam ini memang ada gerhana bulan sebagian. Benar-benar pemandangan yang indah. Langit cerah, bintang bertaburan dan bulan purnama yang sedikit demi sedikit semakin menyabit. Sempat terpikir juga bahwa nun jauh di sebelah timur, teman-teman yang sedang mendaki Semeru juga melihat keindahan gerhana yang sama.
Pukul 04.30, ketika bulan bersembunyi di balik punggung puncak Merapi, saya bangun dan mengemasi ponco. Saatnya menuju Puncak. Di atas saya lihat puluhan pendaki sudah mulai naik. Kerlap-kerlip lampu senter mengular bergerak menuju puncak. Kuikuti barisan pendaki di depan, membelah pasir dan batuan labil Merapi. Sesekali istirahat sambil melihat para pendaki di bawah, juga menatap Merbabu yang berdiri tangguh di belakang. Saat setengah jalan sudah berhasil tercapai, terdengan teriakan histeris dari bawah: “Awaaas batuuuu!”, yang diikuti dengan teriakan lain sahut-menyahut. Sebuah batu besar longsor, 50 meter di bawahku. Sepertinya batu yang longsor itu cukup besar, terdengar dari suaranya yang cukup keras saat menggelinding ke bawah. Saya tidak tahu apakah ada orang yang diterjang batu itu. Pagi harinya, saat saya turun ada orang yang bilang bahwa dia melihat seseorang yang terluka kakinya, entah karena longsoran batu itu atau bukan.
Pukul 05.15, setelah bersusah payah merayap dan sedikit memanjat akhirnya saya sampai di puncak. Ternyata saya sedikit salah jalur. Jalur yang benar akan bertemu dengan bibir Kawah Mati sesaat sebelum puncak. Dari Pasar Bubrah seharusnya kita mengambil arah kiri, mengikuti bekas aliran air.

Puas di Puncak Merapi
Setelah sholat subuh, saya menuju Puncak Garuda yang sudah tak berbentuk sayap garuda lagi, kini bentuknya seperti piramida tipis. Tingginya pun sudah kalah dibanding kubah lava di belakangnya. Saya sempatkan untuk memanjat sampai atas Puncak Garuda. Sayang, kali ini saya tidak membawa kamera.
Sunrise yang indah muncul dari ufuk timur pukul 05.40. Langit bersih sekali pagi itu. Puncak Merapi yang elok, tak tampak garang seperti ketika mengamuk setahun yang lalu. Asap belerang mengepul di sana-sini menimbulkan aroma menyengat. Pesisir Utara dan Selatan Jawa tampak samar nun jauh di sana. Gumpalan awan berjajar bak kapas halus menutupi daratan, sementara kabut putih merayap di kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Prikitiuwwwwww……

Puas di puncak, saya turun mengelilingi gigiran Kawah Mati, kemudian turun ke dasar Kawah Mati. Sungguh pengalaman yang menakjubkan, berada di dasar Kawah Mati yang berpasir dengan dinding kokoh menjulang tinggi mengitarinya. Saat itu hanya saya sendiri saja yang turun ke dasar kawah. Cukup lama juga saya berada di dasar kawah. Saya ingin menebus rasa penasaran saya akan puncak Merapi. Pada pendakian yang pertama di puncak ini bulan Maret lalu, kabut tebal dan hujan deras menyambut kami di puncak. Praktis begitu sampai di puncak, kami langsung turun, tidak sempat melihat Kawah Mati. Padahal jika cuaca cerah, Kawah Mati kelihatan dengan jelas dari puncak.

Upacara Kemerdekaan di Pasar Bubrah
Pukul 07.00 saya turun ke Pasar Bubrah. Pendaki yang turun maupun yang naik tampak menyemut tak terputus. Banyak pendaki yang kesiangan tampaknya, jam 07.00 mereka baru naik ke puncak. Sesampainya di Pasar Bubrah tak disangka saya bertemu dengan Bang Henri Agustin, pendiri milis Highcamp. Orangnya baik sekali, saya dibuatkan teh manis. Sempat pula merasakan tidur di tenda kuning “The North Face”-nya yang legendaris itu. Saya juga diajari membuat pan-cake yang sungguh enak sekali rasanya, mantab. Saat para pendaki lain mengikuti upacara kemerdekaan, kami berdua sibuk memasak pan-cake di tenda, he he he.
Upacaranya sendiri diikuti sekitar 100 orang. Di mulai pukul 10.00. Panitianya anak-anak milis Jejak Petualang, diliput juga oleh Metro TV. Tampak beberapa anggota Wanadri ikut sebagai peserta upacara. Inspektur upacaranya Pak Tri, anggota Wanadri, sedangkan pemimpin upacaranya seorang cewek anggota milis Jejak Petualang.
Pukul 10.00 saya pamit ke Bang Hendri untuk turun duluan. Sempat mampir di Puncak Kartini (bener ga ya namanya). Saya turun bareng tim Dewangga (ga tahu dari mana asalnya) melalui jalur Kartini. Katanya sih lebih teduh, walaupun ternyata sama saja, panas terik dan berdebu. Dan ternyata jalur ini bukan yang saya lewati semalam.

Kembali ke Gunung
Pukul 12.00 saya sampai di base camp, langsung cabut kembali ke Jogja. Muter-muter Jogja sebentar sambil cari info tiket KA buat Bang Hendri. Pukul 18.30 sampai lagi di rumah di Ponjong-Gunungkidul.
Perjalanan 24 jam yang mengasyikkan, menyenangkan dan mengagumkan. Give thanks to Allah. Free of smoking today (yeahhhh), tanpa kamera di puncak kali ini (ohhhh).

Mumpung Merapi Lagi Dingin

Monday, March 24th, 2008

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki. Selain karena akses ke base-camp pendakian yang mudah, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak juga lebih singkat dibanding gunung-gunung yang lainnya.

Secara admiistratif Gunung Merapi termasuk kedalam wilayah empat kabupaten: Klaten, Boyolali, Magelang dan Sleman. Terdapat tiga jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi: jalur selatan melalui Kinahrejo-Sleman, jalur sebelah barat melalui Babadan-Magelang dan jalur utara melalui Selo- Boyolali.

Jalur selatan diawali dari kediaman juru kunci Gunung Merapi Kraton Yogyakarta yang sangat tersohor, Mbah Maridjan. Jalur ini lebih sering ditutup seiring dengan meningkatnya aktifitas vulkanik gunung Merapi. Jalur ini , juga jalur dari sebelah barat (Babadan) merupakan jalur aliran lava dan asap beracun Gunung Merapi yang sering disebut “Wedhus Gembel”.

Jalur Selo merupakan jalur yang paling aman dan “manusiawi”. Jalur inilah yang paling sering dipilih oleh para pendaki untuk menuju puncak Merapi. Pada tanggal 8 Maret 2008 kemaren, penulis bersama dua orang rekan mendaki Merapi melalui jalur Selo.

Pendakian diawali dari base-camp pendaki di dusun/dukuh Plalangan, desa Lencoh, Kecamatan Selo. Adalah Pak Min, penduduk setempat yang menyediakan rumahnya sebagai base-camp bagi para pendaki, baik yang akan naik maupun yang baru saja turun gunung. Di sinilah persediaan air selama pendakian harus dipersiapkan karena di sepanjang jalur pendakian tidak akan ditemui mata air. Di tempat ini pula kita bisa menitipkan sepeda motor serta barang-barang yang tidak diperlukan selama pendakian. Atau jika perut masih kosong kita bisa memesan nasi rames ato nasi goreng di sini.

Waktu favorit untuk mulai mendaki Merapi adalah dini hari sekitar pukul 02.00. Start pada dini hari biasa ditempuh para pendaki untuk mengejar Sunrise di Pasar Bubrah atau di puncak. Meskipun demikian pada perjalanan ini, penulis mulai mendaki pada pukul 11.30 siang karena terbatasnya waktu.

Pendakian diawali dengan menyusuri jalanan beraspal sejauh 500 meter menuju New Selo, sebuah tempat wisata berupa gardu pandang. Kemudian kita menyusuri jalan setapak di sebelah kiri New Selo melewati ladang penduduk. Kira2 tiga puluh menit kita memasuki batas ladang penduduk dan hutan gundul. Hanya satu dua pohon yang menghiasi jalur ini.

Setelah berjalan selama kira2 satu jam dari base-camp, kita akan sampai di Patok I. Sesuai dengan namanya Patok I berupa patok/pancang/tugu beton yang berada di tengah jalur. Nama lain tempat ini adalah Watu Belah atau Selokopo Ngisor. Sepanjang jalur ini sulit ditemukan tempat untuk mendirikan tenda. Baru setelah kita berjalan satu jam dari patok I, kita akan menemui tempat camping yang lumayan luas. Persis sebelum mencapai tempat ini terlebih dahulu kita akan melewati Patok II/Selokopo Nduwur.

Tak jauh dari Patok II kita akan sampai di Watu Gajah, sebuah Batu mirip badan gajah menjadi tandanya. Satu jam berjalan dari Patok II kita sampai di Pasar Bubrah. Deretan tanda peringatan pendaki yang tewas menyambut kita di pintu gerbang Pasar Bubrah. Untuk melanjutkan perjalanan kita menuruni bukit menuju lembah Pasar Bubrah, tempat ini sering digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Puncak Merapi.

Memandang ke depan, dinding puncak gunung Merapi sudah menanti. Tidak ada jalur yang jelas menuju puncak. Saat itu kami mendaki lereng sebelah kiri, kemudian berpindah jalur ke lereng sebelah kanan untuk menghindari dinding curam. Kami harus bejalan dengan sangat hati-hati karena batu yang kita pijak bisa dengan mudahnya longsor.

Setelah berjalan selama satu jam, diselingi dengan scrambling/setengah memanjat sampailah kita di Puncak Merapi. Kira-kira empat setengah jam waktu yang kita butuhkan dari base-camp hingga sampai di Puncak. Asap putih pekat terlihat mengepul. Terlihat pula Puncak Garuda yang telah runtuh, tinggal setengahnya, vandalisme menghiasi dinding batu besar itu. Sempat kit mencari letak kawah mati, tapi tak ketemu juga. Baru kemudian kami tahu, untuk melihat kawah Mati kita seharusnya naik dari lereng sebelah kiri.

Tak berlama-lama berada di pucak, kami memutuskan segera turun. Asap putih makin banyak menyembur, bau belerang juga semakin tajam. Terbayang saat-saat merapi sedang mengamuk mengeluarkan lava dan asap beracunnya. Seharusnya kami membawa masker pelindung. Tak terpikirkan sebelumnya. Setelah foto2 sejenak, kami segera turun.

Saat adzan Isya berkumandang, kami sampai di Base-camp. Perjalanan yang cukup melelahkan. Lutut ini terasa panas sekali. Maklum saja, sejak pagi tiba dari Jakarta kami tak sempat beristirahat langsung mendaki, disepanjang perjalananpun kita tak sempat beristirahat yang cukup. Hanya sesekali berhenti untuk melihat pemandangan saja.

Pendakian kali ini sangat berkesan, meskipun sejak berangkat dari base-camp- puncak- sampai tiba di base-camp lagi selalu diiringi hujan, gerimis dan kabut, namun perasaan mendebarkan saat berada di puncak baru kali ini kami rasakan.

Merapi
Kami akan kembali lagi
Mungkin nanti di saat kemarau
dimana kamii bisa melihat pemandangan elokmu

Info Transportasi (tarif per Maret 2008):

Jakarta-Boyolali 75.000-175.000 (Bis Jakarta-Solo, harga tergantung kelas dan kemampuan negosiasi)
Boyolali-Cepogo 2.500 (minibus: Arif, Lisa, Sayur Gunung, dll)
Cepogo-Selo 3.000 (minibus)

Selo-Jrakah 2.000 (mobil pick-up)
Jrakah-Ketep Pass-Tlatar-Talun 4.000 (angkot warna orange)
Talun-Muntilan 2.000 (angkot warna merah)
Muntilan-Jogja 5.000 (Bis Semarang-Jogja)

Contact Person Base-camp:

Gimar- 085642243652