Energi Alternatif Prabowo Berbahaya
Salah satu program andalan cawapres Prabowo Subiyanto adalah pengembangan sumber energi alternatif berbasis energi terbarukan. Salah satu caranya adalah dengan membuka 4 (empat) juta hektar lahan untuk perkebuna aren yang akan menghasilkan bio-ethanol. Program ini diklaim akan menjadikan Indonesia sebagai pengeksport bahan bakar nabati dan akan menyerap 24 (dua puluh empat) juta pekerja (sumber: megaprabowo.com).
Sekilas memang sangat menarik, tapi bila kita kaji lebih dalam lagi, akan timbul banyak pertanyaan yang pada akhirnya kita akan meragukan program tersebut. Di sini saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan saja: di mana lahan perkebunan seluas empat juta hektar itu akan dibuka?
Lahan di pulau Sumatera telah didominasi perkebunan kelapa sawit, sulit untuk menggeser keberadaan kelapa sawit. Sedangkan lahan di Kalimantan, meskipun masih cukup luas namun sebagian besarnya adalah lahan gambut yang sangat sulit diberdayakan (ingat kegagalan pembukaan sawah sejuta hektar pada zaman orde baru kan?).
Salah seorang aktivis Greenpeace Asia Tenggara yang saya temui beberapa waktu lalu di sebuah seminar lingkungan di Universitas Nasional berujar: “Ujung-ujungnya program itu akan memakan korban hutan di Papua. Satu-satunya lahan yang masih memungkinkan hanya di sana”. Hmmm, belum cukupkah angka 1,8 juta hektar*?
*1,8 juta hektar adalah angka penebangan hutan di Indonesia setiap tahunnya, atau 51 kilo meter persegi tiap harinya (sumber: FAO).
Tags: hutan, Lingkungan