KA Ciliwung Blue Line Sepi Penumpang
Sunday, April 19th, 2009KA Ciliwung Blue Line yang diluncurkan sejak 30 November 2007 oleh Pemda DKI Jakarta bersama PT KAI Daop (Daerah Operasi) I Jakarta ternyata minim peminat. Di suatu pagi, pada pertengahan Maret 2009 yang lalu, saya mencoba jalur kereta ini dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Jatinegara. Dari kapasitas maksimal 400 penumpang, pagi itu hanya terdapat tak lebih dari 20 penumpang. Tragis sekali mengingat saat itu saya naik pada saat jam sibuk (pukul 07.00). Kalau kondisinya seperti ini, menurut saya kereta ini rawan terjadi kejahatan penodongan.
Banyak sebab mengapa jalur kereta ini sepi penumpang. Kereta komuter yang diharapkan menjadi salah satu solusi kemacetan di Jakarta ini ternyata hanya beroperasi satu arah. KRL Ciliwung Blue Line, beroperasi memutar ke kanan searah jarum jam diawali dari Stasiun Manggarai, Mampang, Sudirman, Karet, Tanahabang, Duri dan Angke. Kemudian, diteruskan ke Kampung Bandan, Kemayoran, Pasar Senen, Kramat, Jatinegara. Sesampai di Jatinegara, KRL berbalik arah dan menuju Stasiun Manggarai.
Jadi seperti yang saya alami pagi itu, tujuan saya adalah stasiun Jatinegara (berangkat dari stasiun Tanah abang), namun ternyata saya harus terlebih dahulu memutar melalui stasiun Duri, Angke, Kampungbandan, Kemayoran Pasar Senen dan stasiun Kramat. Pratis lebih dari 45 menit waktu yang diperlukan untuk sampai di stasiun Jatinegara. Padahal jika melalui jalur sebaliknya melalui stasiun Karet, Sudirman, Mampang dan Manggarai tak akan lebih dari 20 menit.
Masalah lainnya adalah minimnya sosialisasi ke masyarakat. Pemberitahuan adanya jalur kereta ini hanya bisa ditemui di stasiun-stasiun. Sebagai Kereta komuter yang diharapkan menjadi salah satu solusi kemacetan di Jakarta, seharusnya sosialisasinya justru dilakukan di kantong-kantong kemacetan jalan raya, bukan hanya di stasiun, sehingga penumpang bus dan kendaraan jalan raya akan beralih ke moda angkutan kereta api ini.