Archive for January, 2009

Rukun 5

Monday, January 12th, 2009

Minggu, 4 Januari 2009
Dalam perjalanan pulang dari Gunungkidul menuju Jakarta, saya berpapasan dengan rombongan Jamaah Haji yang baru pulang dari Tanah Suci.
Sungguh, hati ini bergetar saat melihat rombongan dengan pakaian serba putih itu. Damai dan teduh nampak di wajah mereka.
Dalam hati saya berharap suatu saat nanti bisa memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

Mahalnya Biaya Kuliah

Monday, January 12th, 2009

Ceritanya dulu, menteri pendidikan kita saat ini, berasal dari golongan ekonomi bawah. Laku prihatin menyertai hari-hari sang calon menteri, termasuk saat kuliah di Jogja.  Sebagai penuntut ilmu yang terlahir dari orangtua yang berprofesi sebagai petani, beliau diharuskan mandiri dan hidup sederhana, makan alakadarnya. Sering sang calon menteri hanya membeli kuah gulai untuk lauk hariannya.
Tapi saat menjadi menteri pendidikan, apa yang terjadi. Dalam “masa kekuasaan”nya turun Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). UU yang oleh berbagai pihak dicap sebagai UU komersialisasi pendidikan.
Saya sering mengandai-andai. Andai saja adik saya lahir satu tahun lebih lambat, mungkin orangtua saya tidak akan memutuskan untuk mengirimkannya ke perguruan tinggi. Bagaimana tidak, setahun setelah adik saya kuliah di PT, banyak PTN yang menyodorkan formulir isian uang pendaftaran kepada calon mahasiswanya. Tak tanggung-tanggung, uang pendaftaran itu ada “harga” minimalnya dan berbeda untuk masing-masing jurusan, dari jutaan hingga ratusan juta. Itu baru uang masuknya, belum lagi biaya persemester, biaya buku, sewa kost dan tentu saja biaya hidup harian yang juga ikut-ikutan melambung tinggi yang kata Bung Tony Q Rastafara dalam lagunya, harganya bersaing dengan harga diri.
Beberapa waktu yang lalu saya menemani rekan kantor saya mencari kostan di daerah Salemba Jakarta Pusat. Di daerah yang dekat dengan kampus kedokteran yang mahasiswanya berjaket kuning ini saya dibuat terkejut. Weleh-weleh, harga kostnya rata-rata satu setengah juta perbulan, belum termasuk cuci baju dan parkir mobil. Mobil? Iya benar, rata-rata penghuni kost yang hampir semuanya mahasiswa itu pada bermobil.
Itulah potret dunia pendidikan kita saat ini. Hanya anak yang orangtuanya bisa membayar kost anaknya yang diatas satu setengah juta perbulan dan yang bisa membelikan anaknya mobil saja yang bisa kuliah di PTN favorit ini. Sedangkan anak pegawai, anak karyawan, anak buruh, anak petani dan anak pengangguran apakah mereka masih bisa kuliah? Tentu saja masih, dengan disertai dengan menangis darah tentunya.
Kita lihat di sekitar kita, orang tua sekarang ini cenderung memasukkan anaknya ke sekolah kejuruan, bukannya SMA. Alasannya tentu saja karena mereka merasa tidak akan mampu untuk membiayai kuliah anaknya setamat SMA. Orangtua sudah takut duluan dengan Perguruan Tinggi bahkan saat anaknya masih belum masuk SMA.
Mau dibawa kemana negeri ini.
Tolong anggota dewan, bertindaklah dengan nuranimu (bukan kampanye tuk salah satu parpol lho!)