Tegaknya Surau Kami
Wednesday, October 15th, 2008Lantunan bacaan Alqur’an memecah sunyinya pagi, riuh menyambut naiknya sang fajar. Sholat Subuh berjamaah baru saja selesai ditunaikan. Ada sekitar 15 orang yang ikut berjamaah subuh kala itu, kesemuanya para pemuda, mahasiswa tampaknya. Adzan subuh menggerakkan hati dan kaki mereka menuju bangunan kecil itu, sebuah musholla berukuran 8 x 13 meter. Tulisan Al-Jihad terpampang di atas pintu musholla, mungkin itu nama mushollanya -tentu saja.
Musholla itu sendiri lebih mirip seperti sebuah sekretariat organisasi. Tak pernah sepi ditinggal para pemuda-pemuda penuntut ilmu. Di sisi kiri musholla terpajang dua rak penuh buku. Judul-judul berbobot mengisi rak-rak itu, entah itu buku kuliah, agama, majalah, juga koran laris terbitan ibukota. Dua buah payung kayu kuno berdiri tertutup bilahnya di sudut tempat imam berdiri. Payung itu yang sering dipakai untuk mengiringi jenazah ke pemakaman. Dua mahasiswa menjadi penghuni tetap dan menjaga musholla ini. Mereka makan, mandi dan tidur di sini.
Musholla ini tak sekedar tempat orang melaksanakan sholat berjamaah. Obrolan renyah tentang topik-topik hangat dan kontroversial berlangsung tiap hari. Diskusi agama, politik, juga akademik tak mengenal waktu terjadi di sini, tampak hidup dan bukan sekedar debat kusir.
Pemandangan semacam ini tentunya adalah hal yang biasa kita temui di seputaran kampus di Jogja, juga di kampus kota-kota lainnya. Semangat yang masih membara dari pemuda-pemuda rantau penuntut ilmu. Keterbatasan dan kesederhanaan telah mendekatkan diri mereka kepada Allah. Semoga saja semangat itu akan terus melekat di hati mereka, meskipun keterbatasan telah menjauhi mereka- di saat kemapanan dunia telah mereka raih. Lihatlah, banyak di antara kita yang tak kuasa menahan diri saat diberi cobaan dengan kelapangan dan kecukupan. Jadi, hendaknya kita tidak putus asa dengan sedikit yang kita punya. Sesungguhnya yang sedikit disertai dengan syukur jauh lebih baik dibanding dengan banyak tapi kufur.