Archive for August, 2008

Ultra-light Hiking di Merapi

Wednesday, August 20th, 2008

Kamis 14 agustus 2008, 02.00 - Posko Stapala
Pagi itu saya tidur jam dua dini hari. Sebagian logistik pendakian Semeru esok hari sudah saya masukkan ke ransel. Besok tinggal mindahin aja ke caril. Hand phone saya charge lagi untuk antisipasi jika selama pendakian tidak menemukan colokan listrik. Seperti biasa, HP saya silent.
Pukul 05.15 saya terbangun. Tidur yang lumayan, pikir saya. Masih setengah sadar saya lepas HP dari colokan charger. Busyeet, ada 19 misscall, 4 new messages. Hati mulai gundah gulana, ada apa gerangan. Beberapa nomer yang misscall tak bernama, satu dari rumah, satu dari Dhik Edhi, sepupu jauhku. Salah satu message saya baca:”Innalilahi….”, dalam hati saya menebak, waduh Simbah Putri ini pasti. Tapi saya tahu kemudian, Bulik saya meninggal jam satu dini hari tadi. Karena HP saya silent, panggilan-panggilan telepon tak bisa saya dengar.
Rasa bingung , panik, sedih dan terkejut campur jadi satu. Saya putuskan untuk mandi dan sholat subuh dulu di musholla asrama pojok kampus. Selama di jalan menuju musholla saya berfikir terus apa yang harus saya lakukan. Yang pertama terpikir adalah pendakian Semeru saya batalkan.

Sabtu, 16 Agustus 2008, 17.15 - Ponjong, Gunungkidul
Beranjak dari rumah saya pacu motor protolku menuju base camp pendakian Merapi di Selo kabupaten Boyolali. Kuputuskan untuk mendaki ke Merapi sendirian sebagai pengobat rasa kecewa setelah gagal ke Semeru. Mendaki sendirian bukan pilihan yg mengasyikan. Apalagi jalan sendirian di malam hari, hiiii. Tapi setidaknya di atas gunung saya tidak akan sendirian. Sesuai tradisi, setiap tanggal 17 Agustus, pasti banyak yang akan mendaki. Tim milis Jejak Petualangan juga mendaki gunung yang sama.
Dalam perkiraan, 3-4 jam waktu yang saya butuhkan untuk sampai di Selo. Saat adzan magrib menggema saya sampai di Jogja. Sempat berhenti di Muntilan dan Blabak buat beli senter dan logistik.
Memasuki jalan raya Magelang - Boyolali, jalanan mulai menanjak. Kabut tebal menyambut saat saya tiba di kawasan wisata Ketep Pass. Jarak pandang hanya 10 meter. Terpaksa saya buka kaca helm untuk memperjelas pandangan. Dingin udara malam menembus sampai ke tulang.
Pukul 21.00 saya tiba di Selo. Nampak ratusan pendaki lain telah tiba lebih dulu. Sebagian dari mereka langsung naik. Setelah membayar retribusi Rp. 4.000, saya istirahat di rumah pak RT, tempat saya menitipkan motor. Sebelum tidur saya sempatkan dulu untuk packing ulang. Barang-barang yang saya bawa antara lain:
Ransel DJBC butut nan buluk yg biasa saya pake ke kantor,
SB (sarung bolong),
syal,
kaos tangan,
ponco,
senter besar dengan 4 baterai,
kaos dan kancut cadangan 1,
sendal ‘Boogie” yg mulai keropos.

Yang saya pakai di badan:
jaket, kaos lengan panjang rangkap 2, kaos lengan pendek, celana panjang, celana pendek, semuanya ngembat punya orang.
Assesories tidak ada yang saya bawa: topi, balaklava, kaos kaki, masker (terbukti barang-barang ini bukan sekedar assesoris)
Logistik:
Roti 3 bungkus, Ritz 1, rendang 1 bungkus kecil, kacang bawang, lemper 1, Mijone, Pocari, Fatigon ion-drink, obat-obatan seperlunya.
Benar-benar pendakian yg minim. Tapi safety lho, soalnya saya dah bawa ponco (alat keselamatan nomor wahid).

Pendakian
Pukul 00.00 saya bangun, cuci muka bentar, langsung genjot langkah menuju puncak. Wahh, banyak banget yang mendaki malam ini, ga keputus-putus. Setiap 20 meter pasti ada satu tim pendaki yang saya temui dan lewati. Setengah jam mendaki, puluhan tim sudah saya lewati. Bawaan yang ringan memudahkan pergerakan saya. Tidak seperti yang selama ini saya bawa kalo naik gunung, bawa tas segede bantal dan sepanjang guling.
Bulan Maret yang lalu saya  pernah mendaki Merapi lewat jalur yang sama. Hanya saja, waktu itu saya mendaki bertiga bersama Uhe dan Muladi, temen Stapala, dan waktunya pun siang hari. Saat ini saya mendaki sendirian, malam hari pula, alamaaak.
Jalur yang rame begini ternyata bikin bete juga, harus saling berbagi jalan kalo mau mendahului. Belum lagi harus menyapa tiap pendaki yang saya lewati. Berisiknya juga minta ampun, kadang-kadang mereka berteriak sahut-menyahut. Eghhhhh.
Cling***, Jalur Selo kan ada jalur alternatifnya. Jalur Kartini namanya. Tapi masalahnya, saya belum pernah lewat jalur ini. Persimpangannya di mana saya juga tidak tahu. Tapi cukup menantang juga nih, patut dicoba.

Sendirian di Jalur ‘X’
Selepas perbatasan ladang dan hutan saya lihat banyak persimpangan jalur. Jalur utama yang lebih besar, lurus mengikuti punggungan, sementara jalur-jalur yang ke kiri tidak begitu besar. Penasaran ingin lewat jalur alternatif, saya putuskan untuk berbelok ke kiri berpisah dengan tim pendaki yang lain. Kebetulan dalam jarak kira-kira 200 meter di depan, saya melihat ada sekelebat cahaya senter. Saya berjalan cepat mengejar cahaya itu. Tiga puluh menit saya berjalan, tidak ketemu juga orang yang saya kejar tadi. Banyak persimpangan jalur yg membingungkan, tapi saya ikuti insting saja, yang penting jalurnya jelas. Lama-lama kok jalurnya makin sempit ya, sampai akhirnya jalurnya bener-bener hilang. Waduhhh gazwat nih. Langsung saja saya menerobos semak dan rerumputan mengambil arah kanan mencoba kembali ke jalur normal dengan agak panik dan takut. Ngeri euy, jalan sendirian. Lima belas menit kemudian saya temukan jalur yang agak lebar. Tapi arahnya mendaki kekiri bukan ke kanan. Sempet bingung mo ke kiri ato turun ke kanan, akhirnya saya putuskan untuk ke kiri saja, berdasarkan insting lagi tentunya. Untung saja waktu itu bulan purnama, jadi suasananya ga terlalu gelap.
Alhamdulillah, akhirnya ketemu dua orang pendaki. Saat saya tanya mana jalur yang benar, mereka menjawab tidak tahu, lha wong mereka juga tersesat. Tiga puluh menit berjalan akhirnya kami bertemu dengan jalur normal, tepatnya setelah pos II (Patok II, Sanggabuana Atas, atau apalah namanya, saya kurang tahu) sebelum Watu Gajah (Watu Gajah atau Gajah Mungkur ya?). Di depan, pintu gerbang Pasar Bubrah berupa deretan memorium sudah kelihatan dengan latar belakang puncak Merapi yang kokoh. Memorium-memorium ini dibangun untuk mengenang para pendaki yang meninggal di gunung Merapi. Jauh di sebelah kiri nampak kerlap-kelip lampu kota Boyolali dan Solo. Indah nian. Kota Salatiga juga terlihat anggun berada di sebelah bayangan samar Merbabu.

Menggigil di Pasar Bubrah
Sampai di Pasar Bubrah pukul 02.00 dini hari. Angin bertiup kencang sekali. Wah, rame sekali di sini ya, banyak banget yang camp di Pasar Bubrah, layaknya pasar beneran saja. Pasar bubrah adalah pos terakhir sebelum puncak, biasanya para pendaki mendirikan camp di daerah ini. Bentuknya berupa cekungan luas yang diapit oleh sebuah bukit kecil (yang tadi saya sebut sebagai pintu gerbang Pasar Bubrah) dan punggungan Puncak Merapi. Area ini berupa padang terbuka yang dipenuhi batu-batu besar hasil erupsi Merapi. Tumbuhan yang ada paling hanya pohon cantigi. Kita dapat memilih area berpasir yang tidak berbatu sebagai tempat untuk mendirikan tenda. Saya putuskan untuk istirahat di sini sambil menunggu pagi. Saya menggelar ponco sebagai alas tidur di samping sebuah batu besar. Cukup terlindung dari angin, tapi dinginnya udara tak bisa dihalangi dengan pakaian yang saya kenakan. Benar-benar dingin. Akhirnya selama hampir dua jam saya menggigil kedinginan tidak bisa tidur.
Berbaring di tanah beralaskan ponco berselimut Sleeping Bag Jawa (Sarung), menatap indahnya bulan purnama yang mulai cuwil (growol, ga utuh lagi) akibat gerhana. Ya, malam ini memang ada gerhana bulan sebagian. Benar-benar pemandangan yang indah. Langit cerah, bintang bertaburan dan bulan purnama yang sedikit demi sedikit semakin menyabit. Sempat terpikir juga bahwa nun jauh di sebelah timur, teman-teman yang sedang mendaki Semeru juga melihat keindahan gerhana yang sama.
Pukul 04.30, ketika bulan bersembunyi di balik punggung puncak Merapi, saya bangun dan mengemasi ponco. Saatnya menuju Puncak. Di atas saya lihat puluhan pendaki sudah mulai naik. Kerlap-kerlip lampu senter mengular bergerak menuju puncak. Kuikuti barisan pendaki di depan, membelah pasir dan batuan labil Merapi. Sesekali istirahat sambil melihat para pendaki di bawah, juga menatap Merbabu yang berdiri tangguh di belakang. Saat setengah jalan sudah berhasil tercapai, terdengan teriakan histeris dari bawah: “Awaaas batuuuu!”, yang diikuti dengan teriakan lain sahut-menyahut. Sebuah batu besar longsor, 50 meter di bawahku. Sepertinya batu yang longsor itu cukup besar, terdengar dari suaranya yang cukup keras saat menggelinding ke bawah. Saya tidak tahu apakah ada orang yang diterjang batu itu. Pagi harinya, saat saya turun ada orang yang bilang bahwa dia melihat seseorang yang terluka kakinya, entah karena longsoran batu itu atau bukan.
Pukul 05.15, setelah bersusah payah merayap dan sedikit memanjat akhirnya saya sampai di puncak. Ternyata saya sedikit salah jalur. Jalur yang benar akan bertemu dengan bibir Kawah Mati sesaat sebelum puncak. Dari Pasar Bubrah seharusnya kita mengambil arah kiri, mengikuti bekas aliran air.

Puas di Puncak Merapi
Setelah sholat subuh, saya menuju Puncak Garuda yang sudah tak berbentuk sayap garuda lagi, kini bentuknya seperti piramida tipis. Tingginya pun sudah kalah dibanding kubah lava di belakangnya. Saya sempatkan untuk memanjat sampai atas Puncak Garuda. Sayang, kali ini saya tidak membawa kamera.
Sunrise yang indah muncul dari ufuk timur pukul 05.40. Langit bersih sekali pagi itu. Puncak Merapi yang elok, tak tampak garang seperti ketika mengamuk setahun yang lalu. Asap belerang mengepul di sana-sini menimbulkan aroma menyengat. Pesisir Utara dan Selatan Jawa tampak samar nun jauh di sana. Gumpalan awan berjajar bak kapas halus menutupi daratan, sementara kabut putih merayap di kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Prikitiuwwwwww……

Puas di puncak, saya turun mengelilingi gigiran Kawah Mati, kemudian turun ke dasar Kawah Mati. Sungguh pengalaman yang menakjubkan, berada di dasar Kawah Mati yang berpasir dengan dinding kokoh menjulang tinggi mengitarinya. Saat itu hanya saya sendiri saja yang turun ke dasar kawah. Cukup lama juga saya berada di dasar kawah. Saya ingin menebus rasa penasaran saya akan puncak Merapi. Pada pendakian yang pertama di puncak ini bulan Maret lalu, kabut tebal dan hujan deras menyambut kami di puncak. Praktis begitu sampai di puncak, kami langsung turun, tidak sempat melihat Kawah Mati. Padahal jika cuaca cerah, Kawah Mati kelihatan dengan jelas dari puncak.

Upacara Kemerdekaan di Pasar Bubrah
Pukul 07.00 saya turun ke Pasar Bubrah. Pendaki yang turun maupun yang naik tampak menyemut tak terputus. Banyak pendaki yang kesiangan tampaknya, jam 07.00 mereka baru naik ke puncak. Sesampainya di Pasar Bubrah tak disangka saya bertemu dengan Bang Henri Agustin, pendiri milis Highcamp. Orangnya baik sekali, saya dibuatkan teh manis. Sempat pula merasakan tidur di tenda kuning “The North Face”-nya yang legendaris itu. Saya juga diajari membuat pan-cake yang sungguh enak sekali rasanya, mantab. Saat para pendaki lain mengikuti upacara kemerdekaan, kami berdua sibuk memasak pan-cake di tenda, he he he.
Upacaranya sendiri diikuti sekitar 100 orang. Di mulai pukul 10.00. Panitianya anak-anak milis Jejak Petualang, diliput juga oleh Metro TV. Tampak beberapa anggota Wanadri ikut sebagai peserta upacara. Inspektur upacaranya Pak Tri, anggota Wanadri, sedangkan pemimpin upacaranya seorang cewek anggota milis Jejak Petualang.
Pukul 10.00 saya pamit ke Bang Hendri untuk turun duluan. Sempat mampir di Puncak Kartini (bener ga ya namanya). Saya turun bareng tim Dewangga (ga tahu dari mana asalnya) melalui jalur Kartini. Katanya sih lebih teduh, walaupun ternyata sama saja, panas terik dan berdebu. Dan ternyata jalur ini bukan yang saya lewati semalam.

Kembali ke Gunung
Pukul 12.00 saya sampai di base camp, langsung cabut kembali ke Jogja. Muter-muter Jogja sebentar sambil cari info tiket KA buat Bang Hendri. Pukul 18.30 sampai lagi di rumah di Ponjong-Gunungkidul.
Perjalanan 24 jam yang mengasyikkan, menyenangkan dan mengagumkan. Give thanks to Allah. Free of smoking today (yeahhhh), tanpa kamera di puncak kali ini (ohhhh).

Yang Maha Sempuna

Wednesday, August 20th, 2008

Skenario yang sempurna
Sangat Jarang Bisa terkumpul variable2 seperti ini:
Libur 3 hari,
ditambah bisa cuti 3 hari,
Independence Day,
ada gerhana bulan tanggal 17,
Semeru dibuka untuk pendakian sampai puncak, hanya dan hanya pada hari itu

Bahkan 12 jam sebelum lakon pertama dimulai, saya masih percaya, skenario itu akan benar2 dilakonkan

Tapi, itu cuma skenario
ada yang jauh lebih sempurna, Sang Maha Sempurna, Sang Sutradara

dan *CLING****
kita sebagai wayang tinggal menunggu digerakkan oleh Sang Dalang

Give thanks to Allah

Semeru Jaya, Siapa mo Ikut?

Wednesday, August 6th, 2008

Rundown Pendakian Semeru 15-18 Agustus 2008

Hari Tanggal
Kamis 14-08-08 18.00 Kereta Jakarta (Gambir)-Surabaya
Jumat 15-08-08 06.00 Tiba Di Surabaya
08.00 Kereta /Bus Sby-Malang
09.00 Tiba di Malang
12.00 Sholat Jumat di Malang
14.00 Menuju Tumpang
15.00 Tiba di Tumpang
16.00 Registrasi Pendakian Telp. 0341-787972
16.00 Naik Jeep/Truk Menuju Ranu Pane
19.00 Tiba di Ranu Pane
Daftar Ulang
Camp
Sabtu 16-08-08 07.00 Start Pendakian
11.00 Tiba di Ranu Kumbolo
Istrahat
14.00 Lanjuut
17.00 Tiba di Kali Mati
Camp
Minggu 17-08-08 01.00 Summit Attack
05.00 Mahameru
Upacara 17 Agustus
08.00 Turun
10.00 Kali Mati
13.00 Ranu Kumbolo
16.00 Ranu Pane
18.00 Tumpang
Transit di Senior Stapala
Nginep
Senin 18-08-08 08.00 Menuju Malang
10.00 Tiba di Malang
13.00 Menuju Surabaya
16.00 Tiba di Surabaya
18.00 Kereta Sby-Jakarta
Selasa 19-08-08 06.00 Jakarta