Archive for March, 2008

Saya Mau Jadi Presiden*

Wednesday, March 26th, 2008

Suatu saat nanti, saat saya diberi amanah sebagai presiden, maka yang saya akan lakukan adalah:

1. Pengiriman TKI ke Luar Negeri sebagai pembantu rumah tangga (PRT) akan saya hentikan. Maaf bagi yang keluarganya adalah PRT, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, jujur saja pekerjaan ini merupakan wujud dari perbudakan pada jaman modern ini. Mengirimkan TKI keluar negeri sebagai PRT sama saja dengan meletakkan kehormatan bangsa ini di tempat yang paling rendah. Bangsa indonesia terinjak-injak harkat dan martabatnya, harga dirinya, kita dianggap sebagai bangsa pesuruh.

2. Cukai rokok dan cukai minuman keras akan saya hapus. Dan bukan hanya cukainya saja yang akan saya hapus, pabrik-pabrik rokok juga akan saya tutup. Persetan dengan fatwa para kiai abal-abal, para ulama abangan yang berpendapat bahwa rokok itu mubah/dibolehkan. Yang jelas rokok itu barang yang buruk dan nyata-nyata Islam mengharamkan hal-hal yang buruk. Coba tanya ke ahli kesehatan manapun, apakah rokok itu baik ataukah buruk. Sudah jelas, bagi mereka yang berfikir.

Saya tak habis pikir, cukai dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari bahaya rokok. Dengan pengenaan cukai, dimaksudkan keinginan membeli rokok akan berkurang karena harga yang semakin tinggi.
Tapi yang terjadi di negeri ini, cukai digunakan sebagai instrumen fiskal. Salah satu sumber pokok penerimaan negara. Bahkan penerimaan cukaipun ditargetkan. Mana ada tujuan melindungi dengan cara memasang target penerimaan cukai. Bull shit alias tai kebo. Sama aja boong, mendapatkan penerimaan yang tinggi dari cukai, terbukanya pekerjaan bagi masyarakat dengan dibukanya pabrik rokok, tapi kesehatan rakyat dikorbankan begitu saja. Andai saja kesehatan dan penyakit akibat rokok bisa dihitung, bisa dinominalkan. Saya yakin penerimaan cukai yang sampai saat ini sekitar 40 Trilyun setahun tidak ada apa-apanya. Kerugian masyarakat akibat merokok saya yakin jauh lebih besar dari angka 40 M.

Walaupun pada akhirnya kerugian akibat rokok lebih kecil dibanding pemasukan negara, yang namanya barang haram selayaknya disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita.

*) Le, mandhek ngrokok le!

Malam Terpanjang

Wednesday, March 26th, 2008

Waktu : Pendakian Umum Stapala 2002
Tempat : Kandang Badak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Sabtu pagi, pukul 07.00 dengan ransel abal-abal seharga Rp. 75.000, saya meninggalkan kost menuju Posko Stapala, gedung G Kampus STAN tercinta. Bersama Bayu, Widhi dan Topik (teman satu kos) dengan semangat tinggi, saya melangkahkan kaki menyusuri gang-gang kecil di kampong Kalimongso. Hari ini kita akan mengikuti Pendakian Umum ke Gunung Gede yang diadakan oleh Stapala, organisasi pencinta alam di kampus saya. Setiap peserta ditarik iuran Rp. 30.000,00. Dengan uang sebesar itu para peserta mendapat transport PP, dipinjami tenda dan tentu saja para pemandu dari STAPALA.

Pendakian ini akan menjadi pendakian gunung pertama saya. Pukul sembilan rombongan berangkat menuju Cibodas dengan menggunakan Truk tronton milik Kepolisian. Kondisi truk yang penuh penumpang dan berjejalan tak mengurangi keceriaan kami. Canda tawa senantiasa mengiringi perjalanan kami.

Pukul 12.00 kami tiba di Cibodas, istirahat sebentar, cheking kelengkapan peserta dan perjalanan pendakian pun dimulai.

Sampai menjelang magrib perjalanan aman dan lancar saja. Menjelang magrib rombongan tiba di Kandang Badak. Kami mendirikan tenda di sini. Malam ini kami istirahat, untuk kemudian melanjutkan perjalanan esok dini hari.

Kelompok saya kebagian tenda pramuka. Sebenarnya kami sendiri yang memilih tenda tersebut saat ditawari oleh panitia antara tenda dome dan tenda pramuka. Kami memilih tenda pramuka dengan alasan lebih mudah membawanya dan tidak terlalu membebani.

Setelah menunaikan sholat maghrib, gerimis mulai datang. Hujan perlahan-lahan semakin deras. Semua orang mulai masuk tenda, termasuk kami. Awalnya tenda pramuka kami cukup ampuh menahan hujan yang tak terlalu deras. Akan tetapi seiring dengan semakin derasnya hujan malam itu, air hujan mulai menembus tenda. Setitik demi setitik air menetes melalui atap tenda. Jaket yang kami gunakan mulai basah. Dari bagian bawah, air hujan juga merembes masuk tenda. Rupanya tempat kemah yang kami pilih adalah jalur air ketika hujan.

Semakin malam hujan tak kunjung reda, malah semakin deras. Pakaian kami basah kuyup, tembus sampai pakaian dalam. Saya menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin. Saat itu saya bukanlah perokok. Tapi karena saking dinginnya maka segala cara saya lakukan untuk mengusir dingin. Badan sayapun menggigil dengan kerasnya.

Pukul sepuluh hujan mulai melemah, tapi masih cukup deras. Saat itu teman satu tenda saya, Bayu mulai mengalami gangguan perut. Dia memintaku untuk mengantarnya buang air besar ke sungai. Dengan diiringi hujan saya menemani Bayu buang air besar.

Saat hujan tinggal gerimis saja, saya bermaksud mengganti pakaian yang saya kenakan dengan pakaian yang kering. Namun apa yang terjadi, pakaian cadangan sayapun ternyata ikut basah. Saya lupa menaruhnya dalam plastik. Alhasil, semalaman saya mengenakan pakaian basah.

Sekitar pukul 12 malam saya dan Bayu berpindah ke saung yang berada tak jauh dari tenda kami. Saung itu penuh dengan pendaki lain yang berteduh menunggu hujan reda. Lumayan, kami kebagian tempat yang kering, walaupun sempit sekali. Dengan menggunakan kompor gas, saya mencoba menghangatkan badan. Sambil menghangatkan badan, pakaian dalam saya taruh dekat api kompor dengan maksud untuk mengeringkannya. Karena terlalu dekat dengan api, beberapa bagian celana dalam saya terbakar.

Waktu seakan berjalan begitu lambat. Setiap kali menengok jam tangan, jarum jam hanya bergeser sedikit saja, tak lebih dari lima menit. Semalaman itu saya tak tidur. Menggigil kedinginan berbalut pakaian basah. Saat itu satu-satunya yang ada dalam pikiran saya adalah berapa lama lagi pagi akan datang.

Akhirnya, ufuk timur mulai menunjukkan terangnya. Saat itu jam menunjukkan pukul lima pagi. Lega rasanya malam terpanjang dan terburuk sepanjang hidup saya akhirnya berlalu.

Pagi harinya tim melanjutkan perjalanan menuju puncak Gede. Rencana summit attact pada dini hari tak terlaksana karena hujan turun sepanjang malam. Pagi itu cuaca cukup cerah. Rombongan berangkat dari Kandang Badak sekitar pukul 07.00 dan mencapai puncak pukul 09.00. Di puncak matahari bersinar dengan terangnya, tak ada kabut ataupun mendung. Pakaian basah yang saya kenakan akhirnya kering juga. Saya sempat juga turun ke Alun-alun Surya Kencana bersama beberapa anggota tim lain. Butuh waktu kira2 satu jam untuk turun dan naik kembali dari Alun-alun itu.

Pukul 10.00 rombongan turun gunung. Lagi-lagi temenku, Bayu mengalami masalah. Jempol kaki kanannya mengalami luka sehingga terasa sakit saat bergesekan dengan sepatu. Dengan berjalan lamban kami menuruni gunung Gede. Pukul 15.00 semua anggota tim sudah sampai di Cibodas dan langsung menuju kampus dengan tronton yang sama saat berangkat. Rombongan sempat tertahan macet di Puncak. Sampai di kampus pukul sepuluh malam.

Perjalanan yang tak terlupakan. Saat itu saya sempat berjanji untuk tidak akan naik gunung lagi. Setahun kemudian saat diajak ikut Pendakian Umum lagi, dengan mentah2 saya menolaknya. Cukup sekali seumur hidup, ujarku. Tak disangka, aktifitas naik gunung kini menjadi hobi saya. Selalu saja saya mencari waktu luang untuk mendaki gunung. Entah apa alasannya, saya begitu gandrung dengan aktifitas yang satu ini. Ada kesenangan tersendiri saat kita bisa mencapai puncak. Membaui tanah basah, menghirup udara bersih dan berselimut kabut. Serasa diri ini bebas lepas, merdeka dari segala ikatan.

Sumbing, 21-22 Mart 08

Wednesday, March 26th, 2008

Thanks to Allah!
for the moon and the sun!

Malam itu langit indah sekali
Bulan yang hampir bulat utuh bersinar anggun sekali
cincin kuning mengelilinginya

di ketinggian 2645 mdpl kami berpijak memandang indahnya langit malam itu
angin berhenti berhembus
hanya kami berenam di tempat itu, senyap sekali
temaram lampu kota Wonosobo berjajar rapi di kejauhan

suasana seperti inilah yang dicari para Highlander
bersusah payah menahan berat beban menyeret langkah ke ketinggian
mencari kedamaian di pucuk-pucuk alam

————-

Trimakasih Tuhan Sang Maha Penyembuh
melalui 4 butir bodrex Kau ijinkah aku menikmati ciptaanMu
Tak terpikir sebelumnya aku akan sampai di puncak ini
hampir saja aku menyerah oleh rasa sakit yang luar biasa di kepala ini

Puncak Sumbing sungguh indah
lautan pasir putih di dasar kawah sangat menawan
asap putih menyembur dari kawah aktifnya

Mudah2 an aku bisa kembali suatu saat nanti dengan cuaca yg lebih terang
sMoga saja

Olah raga bikin kita bahagia

Tuesday, March 25th, 2008

Pernah lihat film Legally Blonde?
Di salah satu dialog dalam film tersebut ada pernyataan yang cukup menarik dari sang tokoh utama: "Olah raga menghasilkan Endorfin, Endorfin bikin seseorang bahagia dan awet muda". Begitu kira2 petikan salah satu dialog di film tersebut.

Tapi benarkah pernyataan tersebut? Bahwa olahraga bisa bikin kita bahagia?

Otak manusia adalah karunia Tuhan-Yang Maha Sempurna. Otak kita menghasilkan lebih dari lima puluh hormon  aktif termasuk zat yang dikenal sebagai endorfin, yang memiliki efek mujarab yang bermacam-macam seperti menghilangkan rasa sakit dan stres, menimbulkan perasaan nyaman dan rileks serta menunda penuaan.

Endorfin ditemukan pertama kali pada tahun 1975 oleh John Hughes dan Hans Kosterlitz dari Skotlandia. Tiga jenis endorfin yang diketahui keberadaannya adalah: alfa, beta, dan gamma. Endorfin beta paling banyak berperan dalam meringankan rasa sakit. Para ilmuwan juga telah menemukan bahwa endorfin beta selain membantu sistem kekebalan tubuh melawan penyakit,  juga berperan menyediakan suatu lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan sel-sel kanker.

Latihan jasmani mendorong pelepasan endorfin; dari sinilah munculnya istilah “runner’s high” (perasaan euforia yang muncul dari pelepasan endorfin dari otak yang dialami oleh orang yang melakukan olah raga lari yang berat).

Pelepasan endofrin oleh otak tidak hanya didorong oleh aktivitas olahraga saja. Bermeditasi di ruang gelap yg tertutup, mendengarkan musik serta sering2 tertawa bisa mendorong produksi endorfin oleh otak. Berdasarkan penelitian, orang yang tidur dengan kondisi ruangan gelap (lampu dimatikan) akan bangun lebih fresh keesokan harinya dibanding orang yang tidur dengan lampu menyala. Hal ini dikarenakan saat berada di ruangan gelap otak lebih terangsang untuk menghasilkan endorfin.

Jadi, kini saatnya bangun, kita mulai hari ini dengan olahraga.
Harus sering2 olahraga nih biar bahagia.
Keep on moving!

——–dari berbagai sumber.

Lawu atau Sindoro-Next Trip

Monday, March 24th, 2008

Agenda:

5 April              : Tebing Siung, Gunungkidul. Manjat bareng anak2 2008, camping di atas pasir putih, bakar ikan, asyikkkk

25 April-2 Mei  :  Ambil cuti , kita ke Rinjani. Perjalanan pertama ke luar Jawa. Moga terlaksana

17 Mei              :  Lawu/Sindoro. Dua gunung terakhir sebelum ke Semeru.

Catatan:

Semuanya gagal.

Tebing Siung Gagal, akhirnya kita manjat aja di Tebing Citatah 125 di Padalarang, Bandung tanggal 4-6 April .

Rinjani gagal juga, ga dapet ijin cuti, di kantor banyak kali kerjaan. Lagian ada RAT Stapala tanggal 3 Mei. Akhirnya kita alihkan ke Pangrango, tanggal 25 April, ngajak anak2 2008. Camping di Mandalawangi.

17 Mei? ternyata ada sarasehan STAPALA di Jogja (Kaliurang), musti ikut nih. Naik Lawunya diundur aja.

*foto2 Citatah dan Mandalawanginya ntar nyusul

Mumpung Merapi Lagi Dingin

Monday, March 24th, 2008

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki. Selain karena akses ke base-camp pendakian yang mudah, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak juga lebih singkat dibanding gunung-gunung yang lainnya.

Secara admiistratif Gunung Merapi termasuk kedalam wilayah empat kabupaten: Klaten, Boyolali, Magelang dan Sleman. Terdapat tiga jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi: jalur selatan melalui Kinahrejo-Sleman, jalur sebelah barat melalui Babadan-Magelang dan jalur utara melalui Selo- Boyolali.

Jalur selatan diawali dari kediaman juru kunci Gunung Merapi Kraton Yogyakarta yang sangat tersohor, Mbah Maridjan. Jalur ini lebih sering ditutup seiring dengan meningkatnya aktifitas vulkanik gunung Merapi. Jalur ini , juga jalur dari sebelah barat (Babadan) merupakan jalur aliran lava dan asap beracun Gunung Merapi yang sering disebut “Wedhus Gembel”.

Jalur Selo merupakan jalur yang paling aman dan “manusiawi”. Jalur inilah yang paling sering dipilih oleh para pendaki untuk menuju puncak Merapi. Pada tanggal 8 Maret 2008 kemaren, penulis bersama dua orang rekan mendaki Merapi melalui jalur Selo.

Pendakian diawali dari base-camp pendaki di dusun/dukuh Plalangan, desa Lencoh, Kecamatan Selo. Adalah Pak Min, penduduk setempat yang menyediakan rumahnya sebagai base-camp bagi para pendaki, baik yang akan naik maupun yang baru saja turun gunung. Di sinilah persediaan air selama pendakian harus dipersiapkan karena di sepanjang jalur pendakian tidak akan ditemui mata air. Di tempat ini pula kita bisa menitipkan sepeda motor serta barang-barang yang tidak diperlukan selama pendakian. Atau jika perut masih kosong kita bisa memesan nasi rames ato nasi goreng di sini.

Waktu favorit untuk mulai mendaki Merapi adalah dini hari sekitar pukul 02.00. Start pada dini hari biasa ditempuh para pendaki untuk mengejar Sunrise di Pasar Bubrah atau di puncak. Meskipun demikian pada perjalanan ini, penulis mulai mendaki pada pukul 11.30 siang karena terbatasnya waktu.

Pendakian diawali dengan menyusuri jalanan beraspal sejauh 500 meter menuju New Selo, sebuah tempat wisata berupa gardu pandang. Kemudian kita menyusuri jalan setapak di sebelah kiri New Selo melewati ladang penduduk. Kira2 tiga puluh menit kita memasuki batas ladang penduduk dan hutan gundul. Hanya satu dua pohon yang menghiasi jalur ini.

Setelah berjalan selama kira2 satu jam dari base-camp, kita akan sampai di Patok I. Sesuai dengan namanya Patok I berupa patok/pancang/tugu beton yang berada di tengah jalur. Nama lain tempat ini adalah Watu Belah atau Selokopo Ngisor. Sepanjang jalur ini sulit ditemukan tempat untuk mendirikan tenda. Baru setelah kita berjalan satu jam dari patok I, kita akan menemui tempat camping yang lumayan luas. Persis sebelum mencapai tempat ini terlebih dahulu kita akan melewati Patok II/Selokopo Nduwur.

Tak jauh dari Patok II kita akan sampai di Watu Gajah, sebuah Batu mirip badan gajah menjadi tandanya. Satu jam berjalan dari Patok II kita sampai di Pasar Bubrah. Deretan tanda peringatan pendaki yang tewas menyambut kita di pintu gerbang Pasar Bubrah. Untuk melanjutkan perjalanan kita menuruni bukit menuju lembah Pasar Bubrah, tempat ini sering digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Puncak Merapi.

Memandang ke depan, dinding puncak gunung Merapi sudah menanti. Tidak ada jalur yang jelas menuju puncak. Saat itu kami mendaki lereng sebelah kiri, kemudian berpindah jalur ke lereng sebelah kanan untuk menghindari dinding curam. Kami harus bejalan dengan sangat hati-hati karena batu yang kita pijak bisa dengan mudahnya longsor.

Setelah berjalan selama satu jam, diselingi dengan scrambling/setengah memanjat sampailah kita di Puncak Merapi. Kira-kira empat setengah jam waktu yang kita butuhkan dari base-camp hingga sampai di Puncak. Asap putih pekat terlihat mengepul. Terlihat pula Puncak Garuda yang telah runtuh, tinggal setengahnya, vandalisme menghiasi dinding batu besar itu. Sempat kit mencari letak kawah mati, tapi tak ketemu juga. Baru kemudian kami tahu, untuk melihat kawah Mati kita seharusnya naik dari lereng sebelah kiri.

Tak berlama-lama berada di pucak, kami memutuskan segera turun. Asap putih makin banyak menyembur, bau belerang juga semakin tajam. Terbayang saat-saat merapi sedang mengamuk mengeluarkan lava dan asap beracunnya. Seharusnya kami membawa masker pelindung. Tak terpikirkan sebelumnya. Setelah foto2 sejenak, kami segera turun.

Saat adzan Isya berkumandang, kami sampai di Base-camp. Perjalanan yang cukup melelahkan. Lutut ini terasa panas sekali. Maklum saja, sejak pagi tiba dari Jakarta kami tak sempat beristirahat langsung mendaki, disepanjang perjalananpun kita tak sempat beristirahat yang cukup. Hanya sesekali berhenti untuk melihat pemandangan saja.

Pendakian kali ini sangat berkesan, meskipun sejak berangkat dari base-camp- puncak- sampai tiba di base-camp lagi selalu diiringi hujan, gerimis dan kabut, namun perasaan mendebarkan saat berada di puncak baru kali ini kami rasakan.

Merapi
Kami akan kembali lagi
Mungkin nanti di saat kemarau
dimana kamii bisa melihat pemandangan elokmu

Info Transportasi (tarif per Maret 2008):

Jakarta-Boyolali 75.000-175.000 (Bis Jakarta-Solo, harga tergantung kelas dan kemampuan negosiasi)
Boyolali-Cepogo 2.500 (minibus: Arif, Lisa, Sayur Gunung, dll)
Cepogo-Selo 3.000 (minibus)

Selo-Jrakah 2.000 (mobil pick-up)
Jrakah-Ketep Pass-Tlatar-Talun 4.000 (angkot warna orange)
Talun-Muntilan 2.000 (angkot warna merah)
Muntilan-Jogja 5.000 (Bis Semarang-Jogja)

Contact Person Base-camp:

Gimar- 085642243652