Gunung Merapi merupakan salah satu gunung favorit bagi para pendaki. Selain karena akses ke base-camp pendakian yang mudah, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak juga lebih singkat dibanding gunung-gunung yang lainnya.
Secara admiistratif Gunung Merapi termasuk kedalam wilayah empat kabupaten: Klaten, Boyolali, Magelang dan Sleman. Terdapat tiga jalur pendakian menuju puncak Gunung Merapi: jalur selatan melalui Kinahrejo-Sleman, jalur sebelah barat melalui Babadan-Magelang dan jalur utara melalui Selo- Boyolali.
Jalur selatan diawali dari kediaman juru kunci Gunung Merapi Kraton Yogyakarta yang sangat tersohor, Mbah Maridjan. Jalur ini lebih sering ditutup seiring dengan meningkatnya aktifitas vulkanik gunung Merapi. Jalur ini , juga jalur dari sebelah barat (Babadan) merupakan jalur aliran lava dan asap beracun Gunung Merapi yang sering disebut “Wedhus Gembel”.
Jalur Selo merupakan jalur yang paling aman dan “manusiawi”. Jalur inilah yang paling sering dipilih oleh para pendaki untuk menuju puncak Merapi. Pada tanggal 8 Maret 2008 kemaren, penulis bersama dua orang rekan mendaki Merapi melalui jalur Selo.
Pendakian diawali dari base-camp pendaki di dusun/dukuh Plalangan, desa Lencoh, Kecamatan Selo. Adalah Pak Min, penduduk setempat yang menyediakan rumahnya sebagai base-camp bagi para pendaki, baik yang akan naik maupun yang baru saja turun gunung. Di sinilah persediaan air selama pendakian harus dipersiapkan karena di sepanjang jalur pendakian tidak akan ditemui mata air. Di tempat ini pula kita bisa menitipkan sepeda motor serta barang-barang yang tidak diperlukan selama pendakian. Atau jika perut masih kosong kita bisa memesan nasi rames ato nasi goreng di sini.
Waktu favorit untuk mulai mendaki Merapi adalah dini hari sekitar pukul 02.00. Start pada dini hari biasa ditempuh para pendaki untuk mengejar Sunrise di Pasar Bubrah atau di puncak. Meskipun demikian pada perjalanan ini, penulis mulai mendaki pada pukul 11.30 siang karena terbatasnya waktu.
Pendakian diawali dengan menyusuri jalanan beraspal sejauh 500 meter menuju New Selo, sebuah tempat wisata berupa gardu pandang. Kemudian kita menyusuri jalan setapak di sebelah kiri New Selo melewati ladang penduduk. Kira2 tiga puluh menit kita memasuki batas ladang penduduk dan hutan gundul. Hanya satu dua pohon yang menghiasi jalur ini.
Setelah berjalan selama kira2 satu jam dari base-camp, kita akan sampai di Patok I. Sesuai dengan namanya Patok I berupa patok/pancang/tugu beton yang berada di tengah jalur. Nama lain tempat ini adalah Watu Belah atau Selokopo Ngisor. Sepanjang jalur ini sulit ditemukan tempat untuk mendirikan tenda. Baru setelah kita berjalan satu jam dari patok I, kita akan menemui tempat camping yang lumayan luas. Persis sebelum mencapai tempat ini terlebih dahulu kita akan melewati Patok II/Selokopo Nduwur.
Tak jauh dari Patok II kita akan sampai di Watu Gajah, sebuah Batu mirip badan gajah menjadi tandanya. Satu jam berjalan dari Patok II kita sampai di Pasar Bubrah. Deretan tanda peringatan pendaki yang tewas menyambut kita di pintu gerbang Pasar Bubrah. Untuk melanjutkan perjalanan kita menuruni bukit menuju lembah Pasar Bubrah, tempat ini sering digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Puncak Merapi.
Memandang ke depan, dinding puncak gunung Merapi sudah menanti. Tidak ada jalur yang jelas menuju puncak. Saat itu kami mendaki lereng sebelah kiri, kemudian berpindah jalur ke lereng sebelah kanan untuk menghindari dinding curam. Kami harus bejalan dengan sangat hati-hati karena batu yang kita pijak bisa dengan mudahnya longsor.
Setelah berjalan selama satu jam, diselingi dengan scrambling/setengah memanjat sampailah kita di Puncak Merapi. Kira-kira empat setengah jam waktu yang kita butuhkan dari base-camp hingga sampai di Puncak. Asap putih pekat terlihat mengepul. Terlihat pula Puncak Garuda yang telah runtuh, tinggal setengahnya, vandalisme menghiasi dinding batu besar itu. Sempat kit mencari letak kawah mati, tapi tak ketemu juga. Baru kemudian kami tahu, untuk melihat kawah Mati kita seharusnya naik dari lereng sebelah kiri.
Tak berlama-lama berada di pucak, kami memutuskan segera turun. Asap putih makin banyak menyembur, bau belerang juga semakin tajam. Terbayang saat-saat merapi sedang mengamuk mengeluarkan lava dan asap beracunnya. Seharusnya kami membawa masker pelindung. Tak terpikirkan sebelumnya. Setelah foto2 sejenak, kami segera turun.
Saat adzan Isya berkumandang, kami sampai di Base-camp. Perjalanan yang cukup melelahkan. Lutut ini terasa panas sekali. Maklum saja, sejak pagi tiba dari Jakarta kami tak sempat beristirahat langsung mendaki, disepanjang perjalananpun kita tak sempat beristirahat yang cukup. Hanya sesekali berhenti untuk melihat pemandangan saja.
Pendakian kali ini sangat berkesan, meskipun sejak berangkat dari base-camp- puncak- sampai tiba di base-camp lagi selalu diiringi hujan, gerimis dan kabut, namun perasaan mendebarkan saat berada di puncak baru kali ini kami rasakan.
Merapi
Kami akan kembali lagi
Mungkin nanti di saat kemarau
dimana kamii bisa melihat pemandangan elokmu
Info Transportasi (tarif per Maret 2008):
Jakarta-Boyolali 75.000-175.000 (Bis Jakarta-Solo, harga tergantung kelas dan kemampuan negosiasi)
Boyolali-Cepogo 2.500 (minibus: Arif, Lisa, Sayur Gunung, dll)
Cepogo-Selo 3.000 (minibus)
Selo-Jrakah 2.000 (mobil pick-up)
Jrakah-Ketep Pass-Tlatar-Talun 4.000 (angkot warna orange)
Talun-Muntilan 2.000 (angkot warna merah)
Muntilan-Jogja 5.000 (Bis Semarang-Jogja)
Contact Person Base-camp:
Gimar- 085642243652