Masuk Barak
Friday, August 31st, 2007Mulai Senin besok ak dah msk barak, ikut diklat samapta. 2 mggu doang dapet apa ya? Paling dapet gosong badan doang!
Mulai Senin besok ak dah msk barak, ikut diklat samapta. 2 mggu doang dapet apa ya? Paling dapet gosong badan doang!
Ha ha! Saat kita masih sekolah, sering kita membayangkan nanti kita lulus sekolah, kerja, dapat duit, bisa bli ini itu tanpa minta orang tua….
Dan, saat ini sy tlah mewujudkannya. Trus apakah semua sesuai dengan bayangan waktu mash sekolah dulu?
Ne… ne…
Bangun pagi-pagi (ni sih bagus), masuk kerja tiap hari, bergelut dengan udara kotor Ibukota, terjebak dalam kemacetan jalan, kerja dari pagi sampe malem, kadang harus tidur di kantor, kerjaan seabreg, kerjaan clerical lagi, harus terikat dengan berbagai macam aturan yang mengikat dan kaku abissssssss.
Welcome to the new world Man!. Inilah duniamu skarang.
Sering kali mbayangin enaknya kerja di bidang yang emang menjadi hobi kita. Enak banget kayaknya. Mbayangin enaknya para atlet olahraga, dapat duit banyak dari kerjaan yang memang mereka sukai. Mbayangin enaknya para presenter acara petualangan, dapet duit sambil menyalurkan hobi berpetualangnya. Wuihhhh…., jd ngilerrrrrrrrrrr……
Sering kita dengar semboyan, peribahasa ataupun ungkapan di masyarakat kita yang jika kita pikir secara mendalam mungkin saja kan menimbulkan pernyataan : "Dasar geblek?", seperti:
"Habis makan kalo ga ngrokok sama saja habis boker tapi tidak cebok"’
"Makan ga makan asal kumpul",
"Alon2 waton klakon", dan masih banyak ungkapan lain yang sekilas tampak konyol, namun jika kita cermati , ungkapan2 itu menjadi semacam pembelaan atau "rasionalisasi" bagi masyarakat kita yang -maaf- bermental memble. Rasionalisasi di sini berarti menjadi semacam pemaaf atau penerimaan terhadap suatu perbuatan atau keadaan yang buruk.
Ungkapan pertama di atas diucapkan orang2 yg membela kebiasaan merokoknya. Seolah2 merokok adalah keharusan. Padahal kita semua tahu akibat negatif dari merokok.
Ungkapan kedua adalah cerminan masyarakat yang tidak berani mengambil tantangan, tidak berani mengambil resiko dan ingin "bermain aman" saja. Dan ungkapan ketiga menggambarkan masyarakat yang malas dan lambat berkembang.
Ungkapan semacam itu telah menjadi semacam doktrin yang melekat di pikiran masyarakat dan seperti pernyataan di awal menjadi kata-kata pemaaf dan penghibur yang efeknya adalah kita tidak akan merubah perbuatan atau keadaan yg tidak baik tersebut.
Ada komentar? ato mo nambahin ungkapan2 lain yang lebih GEBLEK/GEBLEG?