Mau bener ternyata susah!
Monday, March 5th, 2007Prolog:
Ni kejadian nyata waktu aku ngurus SIM di polres tempat asalku, awal Maret 2007. Kisahnya dapat dipercaya walaupun tidak 100%, ya 90% lah. Minta komentarnya ya! Biar obyektif.
Latar Belakang:
Saya tulis kisah ini memang sbg ungkapan kekesalan hati saya karena gagal mendapat SIM. Sampai sekarang saya blum punya SIM C. Brarti, tiap kali saya naik motor, maka itu ilegal. Memang sih sampai saat ini saya blum pernah kena tilang, dan menurut saya, tu karena saya selalu beruntung. Walaupun belum pernah ketilang tapi tetep saja tiap kali jalan saya selalu was2, takut kalau tiba2 ada polisi nongol dan minta SIMku. Ga enak jg kan kalo harus keluar 30.000, 20.000 ato 50.000 bwat pak voolishi (ini suap namanya), ato harus menghadiri sidang yg memvonis kita sbg pelanggar hukum. Nahhh. Untuk itulah tgl 5 Maret ini saya tergerak tuk bikin SIM di kantor polres. Tak tanggung2, waktu itu sy bela2in tuk pulang kampung dari Jakarta. Niatnya sih ngurus SIM sesuai aturan. Pasti bangga kan jika kita punya SIM bukan hasil Nembak. tapi……. .
Kronologis:
Dengan penuh percaya diri saya mendatangi loket pembuatan SIM. Banyak jg yang mengurus SIM saat itu. Setelah tanya2, saya disuruh tuk melengkapi berkas pendaftaran: fc ktp, sidik jari dan hasil tes kesehatan. Langsung saja saya datang ke ruangan tempat pengambilan sidik jari karena fc ktp saya dah punya. Tak sampai 5 menit petugas yang saat itu memakai pakaian olah raga bilang: “sepuluh ribu mas!”. Setelah saya kasih 10.000 pak petugas memberi selembar surat keterangan sidik jari lengkap dengan rumus/kode sidik jari saya. Hebat kan polisi Indonesia! Tanpa disidikpun dia sudah tahu rumus sidik jari saya. Memang saya dulu pernah disidik jari pas saya cari SKCK dipolres itu juga, tapi perasaan pak petugas tadi tak tampak membuka file ato kelihatan mencari data kode sidik jari saya. Jadi tinggal tulis aja (asal nulis maksudnya). Dalam hati, saya coba memaklumi tindakan pak petugas tadi, “Itung2 cepet”, gumamku dalam hati, lagi pula saya bukan penjahat ato calon penjahat yang sidik jarinya dicari polisi.
Belum hilang rasa heran saya, sy lgsg menuju ruang tes kesehatan. Tak tampak dalam ruang itu peralatan kesehatan seperti yang tampak di ruang tes kesehatan standard. Yang ada cuma beberapa petugas yang msh jg berpakaian olah raga dan beberapa petugas berseragam polisi mondar mandir. Setelah menyampaikan maksud kedatangan sy yang saya yakin petugas penjaganya pasti dah tahu, saya dipersilahkan duduk. Pak petugas tanya berapa tinggi badan dan berat badan saya. dan lagi2 tak sampai 5 menit, surat keterangan kesehatan dah diserahkan ke saya sambil pak petugas bilang: “Dua puluh ribu mas!”. “Enak juga bapak ini”, pikirku dalam hati.
Yang jadi pertanyaanku apakah uang sejumlah sepuluh ribu dan dua puluh ribu tadi ada dasar pengenaannya apa tidak. Kalopun ada dasarnya, apakah jumlahnya benar2 10.000 dan 20.000. Masalahnya, dalam surat keterangan sidik jari dan surat ket kesehatan itu tak disebutkan jumlah nominal yang harus dibayar para pencari SIM. Dan saya pun tidak menerima bukti pembayarannya. Salah saya juga sih yang tidak meminta bukti pembayaran.
Beranjak dari tes kesehatan “jadi2an” saya menuju loket pendaftaran dan mengisi formulir pendaftaran. Setelah itu sy menuju ruang teori. Di sana ada 2 petugas berpakaian polisi yang salah satunya menyuruh saya duduk dan memberikan formulir untuk diisi. Formulir itu ternyata lembar jawaban untuk tes teori. “Ini dikerjakan di lembar jawaban, soalnya ada 30, waktunya 30 menit”, kata pak polisi tadi sambil memberikan soal tes teori kpd sy. Soalnya cukup susah, tapi saya yakin saya mampu mengerjakannya dengan baik dan bisa memperoleh nilai minimal yaitu 66,6 seperti yang pak polisi bilang: “Minimal salah 10!”, saya tahu maksudnya maksimal bukan minimal.
Sambil mengerjakan soal, sy sempat bertanya2 dlm hati, kok dari td ga ada calo yang nyamperin saya ya. Memang sih di depan loket dah dipajang larangan menggunakan calo dalam mengurus SIM, tapi saya yakin calo SIM memang banyak di sini. Dan keyakinan saya ini bukan sekedar yakin tanpa alasan tp berdasar dari apa yang saya dengar dari beberapa orang yang pernah mengurus SIM. Beberapa orang diantarranya malah menganjurkan untuk mengirus SIM lewat calo aja . “Lewat calo bisa lebih cepat, lagian biayanya juga tak terlalu jauh” katanya. dalam hati sy sempat berujar: “Untung ga ad calo yg membujuk”, karena saya memang berniat mengurus SIM sesuai dengan ketentuan.
Sy selesai mengerjakan soal kemudian sy serahkan ke petugas. Sy melihat pak polisi memeriksa jawaban sy. Meskipun pak polisi tak bilang ke sy bahwa saya lulus, tp sy lihat sy cuma salah 9 dari 30 soal dan berarti sy lls. O iya, sebelum mengoreksi jawaban saya, saya lihat pak polisi mengisi lembar jawaban lain yang masih kosong, memeriksanya sendiri dan kemudian menilainya: 66,6. Apa maksudnya, saya tidak tahu. Kemudian saya bersama 6 orang lainnya dipanggil untuk tes praktek. Ada salah satu peserta tes yang begitu namanya dipanggil langsung kelihatan panik dan menghampiri salah satu petugas yang berpakaian seragam olahraga. “Kok pakai tes Pak”? tanyanya kepada petugas itu. “Nanti saya urus, tenang aj, kamu tidur2 aja nanti juga jadi. Apa maksudnya, saya tidak tahu. Tapi saya menduga petugas tadi bertindak sebagai calo. Dan akhirnya memang orang itu ga jadi ikut tes praktek. “Enak bener ya orang itu!”.
Saya kebagian test paling akhir, jd bisa lihat2 dulu peserta test lain. Sy lihat tidak ada yang sempurna, ada yang menjatuhkan hampir semua balok rintangan, adapula yang menggunakan kaki untuk berpijak mengatur keseimbangan. Saya sendiri beberapa kali harus berpijak ketanah. Setelah tes selesai saya disuruh ke ruang teori , disana saya dikasih tahu bahwa saya tidak lulus tes praktek. Walaupun tidak kaget, tp saya kecewa tidak lulus. Yang bikin tambah kecewa, ternyata yang tidak lulus cuma saya. Peserta lain yang lebih parah dari saya malah lulus. Saya harus mengulangnya minimal satu minggu dari hari itu. Padahal besok siang saya harus balik ke Jakarta. Pusing saya dibuatnya.
Dalam kondisi tertekan, sempat terbesit untuk bilang ke petugas agar sy diperlakukan sama seperti yang lain saja, bayar lebih juga tidak apa2. Namun ternyata saya masih memegang prinsip awal untuk mematuhi prosedur yang ada. Saya sempat melobi agar diijinkan untuk mengulang test praktek hari berikutnya, tapi pak polisi tak mengijinkannya.
Dengan langkah lunglai dan hati yang dongkol saya meninggalkan kantor polres. Dalam hati sya berkata:”Salah sendiri, naik motor aja gak bisa!”