Penyakit lama kumat maning
Monday, May 22nd, 2006Akhir2 ini aku sering terlambat kul. Ini neeh penyakit lama sejak SD sampe SMA. Sempet ilang selama kul d3, eee akhir2 ini kambuh lagi. Ga enak juga seeh ama dosens. Pas mereka lagi kusyuk kuliah, kita datang ketok2 pintu. Ada dosen yang menganalogikan gangguan akibat mahasiswa telat dengan kejadian saat kita lg enak2nya kencing kita disuruh berhenti di tengah2. Parah banget kan. Yah, harap maklum lah pak, namanya juga siswa teladtan.
Jadi ingat waktu SD, sy sering terlambat masuk ke sekolah. Partner telatku saat itu tak lain dan tak bukan adalah seorang siswa yg paling sering tinggal kelas, Agus namanya- tp aku ga tahu kok bisa dia dipanggil sehari2 dengan nama Agung. Hampir tiap hari kita telat masuk ke sekolah. Hanya pas ada tugas piket kebersihan aja barangkali kami tidak terlambat masuk sekolah. Dia masuk SD dua tahun sebelum aku masuk, dan lulus SD dua tahun setelah aku lulus, bareng lulusnya ma adikku. Jd dia menempuh pendidikan di SD selama sepuluh tahun. Setahun naik kelas, tahun berikutnya tinggal kelas, selalu begitu setiap tahun. Sampai dia lulus dia belum lancar membaca. Mungkin karena kasihan sebab sudah terlalu tua aj para guru meluluskannya. Selepas SD dia tidak meneruskan ke SMP. Sehari2 dia bekerja di sawah dan ladang sebagai buruh harian.
Agung ini sahabat deketku, baik di sekolah maupun di rumah, meskipun kami dah ga satu kelaspun- karena dia tinggal kelas, kami tetap menjadi sahabat dekat. Yang paling aku suka dari dia adalah dia jago banget main bola(mungkin karena badannya yang lebih besar sesuai umurnya yg lebih tua dari temen2 sekelas). Jika Agung ikut main, kelas kami selalu menang kalo diadu dengan kelas lain. Tanding dengan kelas yg lebih tinggi sekalipun, kelas kami pasti menang. Kisah petualanganku waktu kecil bersama Agung dan temen2 lain insya Allah akan sy ceritakan lain waktu. Pokoknya sangat seru. Lebih seru dari cerita Si Bolang.
Saat SMP, partner telatku adalah Bayu, temen sekelasku. Dia masih sodara jauh denganku. Biasanya dia kesekolah naik sepeda, sepedanya dititipkan di rumahku. Dari rumahku ke sekolah kita jalan kaki, ga begitu jauh, paling setengah kilometer.
Sebenarnya kalo dah telat, pintu gerbang sekolah ditutup. Tapi kita masih bisa masuk sekolah dengan cara melompat pagar belakang sekolah. Kejadian yang masih kuingat sampai sekarang adalah saat kami terlambat dan masuk dengan cara melompat pagar. Saat itu kita ga mengira kalo di dalam pagar sudah ada guru yang mengawasi, namanya Pak Sumino, guru PPKn yang terkenal sebagai guru paling galak dan kejam di sekolah. Temenku pernah ditabok sama Pak Sumino gara2 kurang respek dan melecehkannya. Lanjut ke cerita, saat kita dah berhasil melompati pagar, dari kejauhan ada yang berlari sambil berteriak: "Oi, Oi, Berhenti!". Bukannya berhenti, kami malah lari kalang kabut- tunggang langgang menyelamatkan diri agar tak tertangkap. Untungnya kami bisa menyamarkan diri masuk ke gerombolan murid lain sehingga kami ga ketangkap dan juga ga ketahuan jati diri kami.
Tak beda dengan saat di SD dan di SMP, saat SMApun hampir tiap hari sy selalu terlambat sekolah. SMA sy letaknya di ibukota Kabupaten, sedangkan rumah saya di kota kecamatan, sekitar 15m km dari sekolah. Dari rumah, sy harus jalan dulu ke pasar melewati jalan berbatu tak beraspal sejauh 1km, kemudian naik minibus sampai ibukota kabupaten. Turun dari minibus, sy harus jalan lg kira2 1km untuk sampai di sekolah, sebab letak sekolah kami di tengah2 kota, sedangkan angkutan umum dilarang masuk kota. Untuk pulang sekolah sore harinya,tinggal dibalik urutannya dari perjalanan pagi hari menuju ke sekolah.
Yg sering bikin sy telat ke sekolah adalah membludaknya penumpang minibus pada pagi hari. Berapapun minibus yang datang langsung ludes diserbu penumpang yg kebanyakan anak sekolahan. Meskipun kapasitasnya sudah dinaikkan 3x dari kapasitas normal -sampai2 ada penumpang yg duduk di dashboard menghadap ke belakang, ada yg bergelantungan di pintu dengan hanya satu kaki berpijak, bahkan ada jg yg naik di atap minibus, tetep saja minibus yg ada tidak mampu menampung jumlah penumpang yg ada. Sebentar aja telat datang ke pasar maka dapat dipastikan sy akan terlambat sekolah.
Sebenarnya kalo mau berkorban sedikit dengan berangkat dari rumah lebih pagi (lebih gelap tepatnya, karena jika datang normal adalah jam 6 pagi) maka sy ga bakalan terlambat. Ini terbukti dari adik sy -satu SMA dengan sy, tp dia jarang banget terlambat karena dia datang lebih pagi dari sy. Karena sy malas bwat mandi pagi2-dingin banget bo airnya, jadinya sy sering telat sekolah.
Meskipun tiba di sekolah setelah jam 7, sy dan teman lain yg terlambat msh bisa masuk melalui pintu parkir motor. Letaknya di bagian belakang sekolah. Tinggal ketok2 pintu aj dan penjaga pintu parkir yang baik hati akan membukakan pintu. Ga perlu kasih duit ke penjaga pintu, cukup ucapan terima kasih aja. Paling2 kita punya sedikit beban moral untuk jajan di kantin istri si penjaga pintu aja.
Cerita blum selesai sampai disini. Sy masih harus berhadapan dengan guru jam pelajaran pertama. Paling enak kalo ketemu Bu Khusnul, Guru Bahasa Inggris. Beliau wali kelas saat sy kelas 2. Sy cuma harus megucapkan jawaban klise alasan kenapa saya terlambat:" I missed the bus", mirip judul lagu grup musik kulit hitam yg ngetrend saat saya SD/SMP-sy lupa, yaitu Criss Cross. Alasan itupun Bu Khusnul yang mengajarinya. Kalo diterjemahkan mungkin artinya "Saya ketinggalan bus". Paling2 beliau cuma tersenyum, geleng2 kepala lalu mempersilakan saya duduk, mungkin itu karena saking seringnya sy terlambat.
Repotnya kalo ketemu guru yg galak dan ketat. Kita diharuskan minta ijin terlebih dahulu ke guru piket di aula depan- dengan dicatat terlebih dulu tentunya. Kalau dah begitu yg paling sering kita2 yg telat lakukan adalah mengungsi ke perpustakaan sampai jam pelajaran guru yg bersangkutan habis. Dengan kata lain kita absen/bolos satu pelajaran. Jika kita telat pas jam pelajaran olah raga, paling sering kita disuruh nyapu halaman ato lapangan basket yang akan dipake bwat olahraga.
Suatu waktu kita telat pas ada upacara di sekolah. Entah apa sebabnya saat itu kami yg terlambat -5 org: sy, Budi, Lilik, dan Popo, memutuskan untuk bolos saja. Padahal waktu itu kita dah nyampe gerbang sekolah. Setelah ngomong2 bentar, kita putuskan untuk main saja ke rumah Budi. Ia mo mengajak kami mengunjungi gua yg ada di deket rumahnya. Bayangkan saja, waktu itu seragam yg kita pake putih-putih. Kami harus masuk gua gelap yang penuh lumut dan berlumpur. Belum lg letak gua yang berada ditengah-tengah ladang pertanian penduduk. Akibatnya ketika keluar dari gua, seragam sekolah kami kotor ga karuan. Acara bolos hari itu diakhiri dengan sholat jumat di masjid deket rumah Budi -dengan pakaian yg tetap kotor tentunya.