Mount Cikurai, Garut, West Java

August 1st, 2009 by daris

Sabtu, 18 Juli 2009, saya bersama lima orang anak posko Stapala ditambah dengan salah seorang senior - Mas Erwin Cahyono 466, mendaki Gunung Cikurai di Garut Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian 2818 mdpl ini merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat (setelah Ciremai, Pangrango dan Gedhe).

Berangkat dari Jakarta via terminal Lebak Bulus pada pukul 08.00, rombongan anak posko berjumpa dengan Mas Erwin yg sudah menunggu di terminal Bus Guntur, Garut pada pukul 14.00. Perjalanan dilanjutkan dengan naik angkot ke pertigaan Cigarungsang. Dari titik ini tim memulai perjalanan mendaki. Dibutuhkan waktu 3,5 jam bagi tim untuk mencapai Pos Pemancar melalui perkebunan teh yang eksotis. Kami istirahat sejenak di kompleks pemancar televisi itu untuk sekedar melepas lelah dengan ditemani 2 gelas kopi yg terus digilir, berpindah dari satu tangan ke tangan yg lain.

Pukul 21.00 kami melanjutkan langkah mendaki tanjakan terjal, menembus hutan lebat berlumut Gunung Cikurai. Asyik juga naek gunung malam hari: gak panas dan gak cepat haus. Pada pukul 24.00 kami sampai di pos 3 (camp area 2). Kami memutuskan tuk mendirikan tenda di sini.

Esok dini harinya, pukul 03.00, Mas Erwin dan Ranjoss melakukan summit attack untuk mengejar sunrise. Sementara 5 orang lainya masih terlelap dalam mimpi. Baru kemudian, setelah Mas Erwin dan Ranjoss turun kembali ke pos 3 pada pukul 08.30, kami ber5 gantian menyerbu puncak. Pukul 10.00 kami menggapai Puncak Cikurai. Cuaca hari itu sangat mendukung. Pandangan mata tak terbatas 360 derajat, awan putih yg jauh berada di bawah kami, gunung2 berjajar berselimut awan.

Setelah berfoto ria dan menyanyikan mars Stapala dengan suara sumbang, kami turun kembali ke pos 3. Pada pukul 17.00 kami sudah menginjakkan kaki di pertigaan Cigarungsang lagi.

Perjalanan yang luar biasa, salut buat Mas Erwin 466 yang masih kuat memanggul carier penuh logistik. Bukti dan sekaligus sindiran bagi senior-senior yang lain, bahwa usia bukan halangan tuk terus mendaki.

Buat senior-senior yang kangen akan suasana puncak gunung, yang kangen akan bau tanah basah, kabut putih, dinginnya udara gunung, silakan kontak saja anak–anak posko. Kami siap menemani perjalanan abang-abang semua.

Tim Cikurai 2009:
Erwin Cahyono466
Dosko Daris Jati802
Sentot Wisnu Sudiro843
Jupret Zulfikar Ahmad858
Wapress Muhammad Hatta860
Ranjoss Agil Wibowo862
Bogank Muhammad Agus878

Ini Dia, Salak Via Cimelati

August 1st, 2009 by daris

Pada tanggal 11 Juli 2009 kemaren, saya dan 8 orang temen mendaki gunung salak via Cimelati dan turun lewat jalur Cidahu/Cangkuang.
Berikut catatan ringkasnya:

Ciputat-Pertigaan Cimelati: Bus Pusaka @15.000, dari Ciputat jam 07.00, sampai di cimelati jam 10.00.
Pertigaan Cimelati-Pos Satpam (pos Murbay): ojek @10.000 (melalui tawar menawar yg alot, awalnya tukang ojek nawarin tarif 20.000). Tukang ojek memang sangat mendominasi di pertigaan itu.

Sampai di Pos Satpam/Pos Murbai melaporkan diri ke petugas satpam, isi buku tamu, tak dipungut biaya. Dari pos satpam ke batas hutan kira2 300meter, jalan aspal mulus.

Sumber air ada di Pipa Bocor, kira2 2 jam perjalanan dari pos murbai. Di tengah2 jalur, sesaat setelah memasuki pintu hutan kita akan menemui pipa air yg berlubang, tapi pipa ini bukanlah pipa yg dimaksud dg “pipa bocor”. Pipa Bocor berada pada shelter ke 3 di dalam hutan lebat dan merupakan sumber air terakhir sampai puncak.

Setelah memasuki pintu masuk hutan ada persimpangan, ambil yang ke kiri.
Perjalan ke puncak kami tempuh selama 6 jam dengan kondisi cuaca cerah dan jalur yang kering.

  • Info jalur Cidahu/Cangkuang:

Pendaki akan dikenai tarif 3x:
tarif camp area 4000 perorang permalam (kalo gak salah).
tarif pendakian ke puncak @2500.
tarif tenda 20.000 pertenda.

  • Salak Cimelati squad

dari stapala:

  1. Dosko Daris Jati
  2. Cekong Brilian Ananta Tirtaklamasi
  3. Coti Guntur Alyafie
  4. Gokong Eko Santoso

Dari IPB+:

  1. Abi (fasilkom)
  2. Charles (kedokteran hewan)
  3. Priyo (fasilkom)
  4. Reki
  5. Wahyu (ponakan Abi)

Energi Alternatif Prabowo Berbahaya

June 24th, 2009 by daris

Salah satu program andalan cawapres Prabowo Subiyanto adalah pengembangan sumber energi alternatif berbasis energi terbarukan. Salah satu caranya adalah dengan membuka 4 (empat) juta hektar lahan untuk perkebuna aren yang akan menghasilkan bio-ethanol. Program ini diklaim akan menjadikan Indonesia sebagai pengeksport bahan bakar nabati dan akan menyerap 24 (dua puluh empat) juta pekerja (sumber: megaprabowo.com).

Sekilas memang sangat menarik, tapi bila kita kaji lebih dalam lagi, akan timbul banyak pertanyaan yang pada akhirnya  kita akan meragukan program tersebut. Di sini saya hanya akan mengajukan satu pertanyaan saja: di mana lahan perkebunan seluas  empat juta hektar itu akan dibuka?

Lahan di pulau Sumatera telah didominasi perkebunan kelapa sawit, sulit untuk menggeser keberadaan kelapa sawit. Sedangkan lahan di Kalimantan, meskipun masih cukup luas namun sebagian besarnya adalah lahan gambut yang sangat sulit diberdayakan (ingat kegagalan pembukaan sawah sejuta hektar pada zaman orde baru kan?).

Salah seorang aktivis Greenpeace Asia Tenggara yang saya temui beberapa waktu lalu di sebuah seminar lingkungan di Universitas Nasional berujar: “Ujung-ujungnya program itu akan memakan korban hutan di Papua. Satu-satunya lahan yang masih memungkinkan hanya di sana”. Hmmm, belum cukupkah angka 1,8 juta hektar*?

*1,8 juta hektar adalah angka penebangan hutan di Indonesia setiap tahunnya, atau 51 kilo meter persegi tiap harinya (sumber: FAO).

KA Ciliwung Blue Line Sepi Penumpang

April 19th, 2009 by daris

KA Ciliwung Blue Line yang diluncurkan sejak 30 November 2007 oleh Pemda DKI Jakarta bersama PT KAI Daop (Daerah Operasi) I Jakarta ternyata minim peminat. Di suatu pagi, pada  pertengahan Maret 2009 yang lalu, saya mencoba jalur kereta ini dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Jatinegara. Dari kapasitas maksimal 400 penumpang, pagi itu hanya terdapat tak lebih dari 20 penumpang. Tragis sekali mengingat saat itu saya naik pada saat jam sibuk (pukul 07.00). Kalau kondisinya seperti ini, menurut saya kereta ini rawan terjadi kejahatan penodongan.

Banyak sebab mengapa jalur kereta ini sepi penumpang. Kereta komuter yang diharapkan menjadi salah satu solusi kemacetan di Jakarta ini ternyata hanya beroperasi satu arah. KRL Ciliwung Blue Line, beroperasi memutar ke kanan searah jarum jam diawali dari Stasiun Manggarai, Mampang, Sudirman, Karet, Tanahabang, Duri dan  Angke. Kemudian, diteruskan ke Kampung Bandan, Kemayoran, Pasar Senen, Kramat, Jatinegara. Sesampai di Jatinegara, KRL berbalik arah dan menuju Stasiun Manggarai.

Jadi seperti yang saya alami pagi itu, tujuan saya adalah stasiun Jatinegara (berangkat dari stasiun Tanah abang), namun ternyata saya harus terlebih dahulu memutar melalui stasiun Duri, Angke, Kampungbandan, Kemayoran  Pasar Senen dan stasiun Kramat. Pratis lebih dari 45 menit waktu yang diperlukan untuk sampai di stasiun Jatinegara. Padahal jika melalui jalur sebaliknya melalui stasiun Karet, Sudirman, Mampang dan Manggarai tak akan lebih dari 20 menit.

Masalah lainnya adalah minimnya sosialisasi ke masyarakat. Pemberitahuan adanya jalur kereta ini hanya bisa ditemui di stasiun-stasiun. Sebagai Kereta komuter yang diharapkan menjadi salah satu solusi kemacetan di Jakarta, seharusnya sosialisasinya justru dilakukan di kantong-kantong kemacetan jalan raya, bukan hanya di stasiun, sehingga penumpang bus dan kendaraan jalan raya akan beralih ke moda angkutan kereta api ini.

Cerita tentang Mass Transport yang tidak Manusiawi

April 15th, 2009 by daris

Saya termasuk salah satu penggemar transportasi publik, baik itu bus ataupun kereta. Saya akan lebih senang bepergian dengan naik bis atau kereta dari pada menggunakan kendaraan pribadi (motor maksudnya, kalo mobil belum punya). Ada suasana yang khas yang bisa kita temui di dalam kendaraan umum: keriuhan, keberagaman dan interaksi sosial dengan masyarakat luas tentunya.

Sayangnya di negara kita ini transportasi massalnya masih sangat meprihatinkan. Armada yang sudah tidak layak pakai, fasilitas yang tidak ramah penumpang, dan jalur yang terbatas merupakan kelemahan yang utama pada transportasi massal kita. Selain itu perilaku awak angkutan yang ugal-ugalan menambah nilai minus transportasi massal kita.

Tengok saja kondisi bus kota di Jakarta, sangat tidak nyaman untuk penumpang: kursi fiber yang super sempit dan polusi udara berat yang dihasilkannya. Saya seringkali kasihan dengan salah satu kawan saya yang kebetulan mempunya tinggi badan di atas rata-rata. Naik bis kota adalah suatu siksaan baginya, duduk tentunya tidak memungkinkan baginya karena sempitnya deretan antar kursi, dan kalaupun berdiri maka dia harus membungkukkan badannya sepanjang perjalanan. Ngetem terlalu lama, ulah sopir yang ugal-ugalan dan asap tebal yang dihasilkan menjadi ‘nilai tambah’ nya.

Bagaimana dengan kondisi kereta api kita? Setali tiga uang, kondisinya sangat memprihatinkan. Sekali-kali cobalah untuk naik kereta ekonomi pada hari sibuk (pada akhir pekan atau libur panjang untuk kereta jarak jauh). Anda akan menemui keadaan yang sangat miris: penumpang berdesak-desakan hingga ke batas antar gerbong, bahkan toiletnya yang bau itupun akan dipenuhi penumpang. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya penjual yang mondar-mandir di dalam kereta. Layaknya pasar berjalan, sangat crowded dan segala jenis barang bisa anda temui di dalam kereta. Belum lagi banyaknya pengamen, pengemis dan para penyedia jasa lainnya. Jangan kaget kalau ada yang menawari jasa pijat di atas kereta, atau jika anda melihat orang menemprotkan pengharum di depan kita dan meminta imbalan.

Orienteering, Olahraga yang Mengasyikkan

April 15th, 2009 by daris

Pasti banyak diantara kita yang belum tahu apa itu orienteering. Yup, saya sendiri juga baru tahu 3 tahun yang lalu. Memang orienteering hanya populer di kalangan terbatas: militer, pramuka, dan pecinta alam. Orienteering adalah kegiatanoutdoor dimana kita mencoba mencocokkan gambar di peta dengan kondisi alam sesungguhnya. Dalam orienteering ini kita berbekal sebuah peta dan dengan bantuan kompas mencoba menemukan titik yang telah ditentukan, baik yang telah diplot ke peta maupun yang berupa suatu koordinat. Untuk titik yang masih berupa koordinat, kita harus memindahkannya terlebih dahulu kedalam peta.

Kegiatan orienteering bisa disebut olah raga, bisa juga disebut game. Kegiatan ini akan lebih seru jika dijadikan lomba atau kompetisi, dimana beberapa team saling bersaing untuk memperoleh titik sebanyak-banyaknya dengan waktu yang telah dibatasi. Peta yang dipakai dalam lomba orienteering adalah peta topografi yang dicetak khusus dengan skala kecil (biasanya 1:25.000) yang memungkinkan para peserta memperoleh gambaran yang lebih detil.

Teknis lombanya, masing-masing team akan diberi titik-titik koordinat yang harus mereka capai. Masing-masing titik ini mempunyai skor yang berbeda-beda, tergantung dari tingkat kesulitan pencapaiannya. Pada tiap-tiap titik itulah terdapat bendera / tanda yang dilengkapi dengan kartu kontrol. Team yang mencapai suatu titik harus mencatatkan dirinya di kartu kontrol. Kekuatan dan ketahanan fisik menjadi kunci utama untuk memenangkan suatu lomba orienteering (selain kemampuan dasar membaca peta tentunya). Untuk memenangkan suatu lomba kita dituntut untuk berlari sepanjang lomba. Team yang mempunyai endurance yang baguslah yang akan memenangkan suatu lomba.

Di Indonesia, lomba orienteering masih jarang diselenggarakan. Salah satu instansi pemerintah yang rutin menyelenggarakan lomba orienteering setiap tahunnya adalah kementerian pemuda dan olah raga dengan MOC-nya (Menpora Orienteering Competition). Selain itu, lomba ini paling sering diadakan koleh komunitas Pecinta Alam.

Rukun 5

January 12th, 2009 by daris

Minggu, 4 Januari 2009
Dalam perjalanan pulang dari Gunungkidul menuju Jakarta, saya berpapasan dengan rombongan Jamaah Haji yang baru pulang dari Tanah Suci.
Sungguh, hati ini bergetar saat melihat rombongan dengan pakaian serba putih itu. Damai dan teduh nampak di wajah mereka.
Dalam hati saya berharap suatu saat nanti bisa memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci.

Mahalnya Biaya Kuliah

January 12th, 2009 by daris

Ceritanya dulu, menteri pendidikan kita saat ini, berasal dari golongan ekonomi bawah. Laku prihatin menyertai hari-hari sang calon menteri, termasuk saat kuliah di Jogja.  Sebagai penuntut ilmu yang terlahir dari orangtua yang berprofesi sebagai petani, beliau diharuskan mandiri dan hidup sederhana, makan alakadarnya. Sering sang calon menteri hanya membeli kuah gulai untuk lauk hariannya.
Tapi saat menjadi menteri pendidikan, apa yang terjadi. Dalam “masa kekuasaan”nya turun Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). UU yang oleh berbagai pihak dicap sebagai UU komersialisasi pendidikan.
Saya sering mengandai-andai. Andai saja adik saya lahir satu tahun lebih lambat, mungkin orangtua saya tidak akan memutuskan untuk mengirimkannya ke perguruan tinggi. Bagaimana tidak, setahun setelah adik saya kuliah di PT, banyak PTN yang menyodorkan formulir isian uang pendaftaran kepada calon mahasiswanya. Tak tanggung-tanggung, uang pendaftaran itu ada “harga” minimalnya dan berbeda untuk masing-masing jurusan, dari jutaan hingga ratusan juta. Itu baru uang masuknya, belum lagi biaya persemester, biaya buku, sewa kost dan tentu saja biaya hidup harian yang juga ikut-ikutan melambung tinggi yang kata Bung Tony Q Rastafara dalam lagunya, harganya bersaing dengan harga diri.
Beberapa waktu yang lalu saya menemani rekan kantor saya mencari kostan di daerah Salemba Jakarta Pusat. Di daerah yang dekat dengan kampus kedokteran yang mahasiswanya berjaket kuning ini saya dibuat terkejut. Weleh-weleh, harga kostnya rata-rata satu setengah juta perbulan, belum termasuk cuci baju dan parkir mobil. Mobil? Iya benar, rata-rata penghuni kost yang hampir semuanya mahasiswa itu pada bermobil.
Itulah potret dunia pendidikan kita saat ini. Hanya anak yang orangtuanya bisa membayar kost anaknya yang diatas satu setengah juta perbulan dan yang bisa membelikan anaknya mobil saja yang bisa kuliah di PTN favorit ini. Sedangkan anak pegawai, anak karyawan, anak buruh, anak petani dan anak pengangguran apakah mereka masih bisa kuliah? Tentu saja masih, dengan disertai dengan menangis darah tentunya.
Kita lihat di sekitar kita, orang tua sekarang ini cenderung memasukkan anaknya ke sekolah kejuruan, bukannya SMA. Alasannya tentu saja karena mereka merasa tidak akan mampu untuk membiayai kuliah anaknya setamat SMA. Orangtua sudah takut duluan dengan Perguruan Tinggi bahkan saat anaknya masih belum masuk SMA.
Mau dibawa kemana negeri ini.
Tolong anggota dewan, bertindaklah dengan nuranimu (bukan kampanye tuk salah satu parpol lho!)

Panggilan Dari Gunung

December 9th, 2008 by daris

Kembali kulakukan ritual pagi hari ini. Seperti biasa, begitu sampai di kantor, segera saja ku keluar, ke balkon lantai V gedung tempatku kerja. Jika cuaca di ufuk selatan cerah, terpampanglah dua raksasa nun jauh di ujung cakrawala. Raksasa-raksasa yang selalu melambaikan tangannya, memanggilku tuk naik keatas punggungnya.

Entah kenapa, Gunung-gunung raksasa itu selalu memanggilku. Dua gunung yang masing-masing memiliki dua kepala. Yang satu dengan dua kepala yang tidak simetris dan yang satunya dengan bentuk dua kepalanya yang hampir simetris.

Ketika aku membuka tirai jendela ruang kerjaku, dua gunung itulah yang pertama menyapa. “Hai, apa kabar, kapan main ke sini lagi?”, begitulah kira-kira sapaan mereka. Ketika aku melewati jalan tol Ulujami-Pondok Aren, dua sosok itu kembali melambaikan tangannya selayaknya anak-anak kecil di pedesaaan yang dengan riangnya melambaikan tangan saat melihat mobil melintas di depan mereka.

Lain lagi jika aku melintasi fly over Senen atau fly over Casablanca di atas Jalan Sudirman. Kali ini hanya raksasa yang besar aja yang terlihat. Bak seorang ibu yang menyambut anaknya yang telah lama tidak pulang, sang raksasa itu membuka tangannya lebar-lebar. “Mari kesini nak!”, katanya.

Tegaknya Surau Kami

October 15th, 2008 by daris

Lantunan bacaan Alqur’an memecah sunyinya pagi, riuh menyambut naiknya sang fajar. Sholat Subuh berjamaah baru saja selesai ditunaikan. Ada sekitar 15 orang yang ikut berjamaah subuh kala itu, kesemuanya para pemuda, mahasiswa tampaknya. Adzan subuh menggerakkan hati dan kaki mereka menuju bangunan kecil itu, sebuah musholla berukuran 8 x 13 meter. Tulisan Al-Jihad terpampang di atas pintu musholla, mungkin itu nama mushollanya -tentu saja.

Musholla itu sendiri lebih mirip seperti sebuah sekretariat organisasi. Tak pernah sepi ditinggal para pemuda-pemuda penuntut ilmu. Di sisi kiri musholla terpajang dua rak penuh buku. Judul-judul berbobot mengisi rak-rak itu, entah itu buku kuliah, agama, majalah, juga koran laris terbitan ibukota. Dua buah payung kayu kuno berdiri tertutup bilahnya di sudut tempat imam berdiri. Payung itu yang sering dipakai untuk mengiringi jenazah ke pemakaman. Dua mahasiswa menjadi penghuni tetap dan menjaga musholla ini. Mereka makan, mandi dan tidur di sini.

Musholla ini tak sekedar tempat orang melaksanakan sholat berjamaah. Obrolan renyah tentang topik-topik hangat dan kontroversial berlangsung tiap hari. Diskusi agama, politik, juga akademik tak mengenal waktu terjadi di sini, tampak hidup dan bukan sekedar debat kusir.

Pemandangan semacam ini tentunya adalah hal yang biasa kita temui di seputaran kampus di Jogja, juga di kampus kota-kota lainnya. Semangat yang masih membara dari pemuda-pemuda rantau penuntut ilmu. Keterbatasan dan kesederhanaan telah mendekatkan diri mereka kepada Allah. Semoga saja semangat itu akan terus melekat di hati mereka, meskipun keterbatasan telah menjauhi mereka- di saat kemapanan dunia telah mereka raih. Lihatlah, banyak di antara kita yang tak kuasa menahan diri saat diberi cobaan dengan kelapangan dan kecukupan. Jadi, hendaknya kita tidak putus asa dengan sedikit yang kita punya. Sesungguhnya yang sedikit disertai dengan syukur jauh lebih baik dibanding dengan banyak tapi kufur.